Thursday, October 06, 2011
Catatan Malam: Bapak Guru
Mungkin terkesan cengeng sekali, tapi saya (memang) jadi ingat Bapak.
Kabar mengenai salah seorang guru SMA saya yang jatuh sakit memang sudah lama saya dengar, maka ketika beberapa pekan lalu saya pulang ke Indramayu, saya sempatkan untuk menengok beliau di kediamannya, kediaman yang ia tinggali seorang diri. Betul lah kiranya, guru saya yang satu ini berjuang sendiri melawan sakit yang tak diketahui dari mana mulanya, sementara keluarganya tinggal di Bandung. Saya jadi terenyuh sendiri ketika melihat para tetangga Bapak Guru datang silih berganti sekedar mengantarkan makanan, ataupun menanyakan kabar beliau hari itu.
Lantas melalui facebook, saya mengetahui perkembangan kesehatan Bapak Guru, nyatanya tak semakin membaik. Setelah saya menengoknya hari itu, hanya jeda satu hari saja, Bapak Guru dilarikan ke sebuah rumah sakit di Kota Cirebon, dirawat di sana selama hampir sepekan. Dan baru-baru ini, Bapak Guru dibawa ke RSHS, katanya untuk menjalani operasi. Siswanya, hampir dari setiap angkatan, mengumpulkan uang untuk membantu biaya pengobatan Bapak Guru. Dan hampir tiap hari, ada saja siswa yang menengok beliau. Mungkin itulah, mengapa seorang guru menjadi sebuah profesi yang sangat istimewa bagi saya.
Kemarin sore, tiba-tiba saja saya ingin sekali menengok beliau. Rasanya tega sekali kalau saya yang tinggal tak jauh dari RSHS sama sekali tak menyempatkan diri untuk bersua, atau sekedar 'menularkan' senyum ke Bapak Guru ini. Maka saya menghubungi beberapa kawan untuk bersama-sama ke RSHS, walaupun hanya satu orang yang akhirnya menanggapi karea kawan-kawan yang lain berencana menengok hari Ahad nanti. Jadi, pukul tujuh malam itu, saya meluncur menuju RSHS.
Bapak Guru yang saya lihat lebih kurus dibanding ketika saya menengok di rumahnya beberapa pekan lalu. Selang-selang terhubung ke hidung dan lengannya. Duh, saya tak tega melihatnya. Di samping Bapak Guru, duduk wali kelas saya ketika SMA, sedang tilawah. Beliau menghentikan tilawahnya melihat saya dan kawan saya datang. Kami menyalami Bapak Guru, yang jemarinya tak lepas dari tasbih. Kami tersenyum.
Setelah mengobrol ke sana-kemari, kami kehabisan bahan pembicaraan. Saya duduk di sofa, melihat ke arah Bapak Guru, dan tiba-tiba saya ingin tilawah. Ibu wali kelas saya menyediakan kursi di samping ranjang Bapak Guru, mempersilakan saya duduk di sana dan sayapun duduk bertilawah. Bapak Guru memejamkan matanya.
Membaca Yasin macam ini mengingatkan saya ketika menunggui Bapak saat dulu dirawat di rumah sakit, maka saya menangis.
Saya menyelesaikan tilawah saya, Bapak Guru membuka matanya kembali.
"Bapak istirahat aja ya, tidur..." ujar saya pelan. Bapak Guru menggeleng.
"Tadi Intan baca apa?" tanyanya.
"Baca Yasin, Pak. Maaf, bacaannya jelek ya?" Bapak Guru menggeleng lagi.
"Nggak. Bagus kok..." deg, saya jadi semakin ingin menangis, teringat Bapak yang belum pernah mengatakan hal itu ketika saya tilawah.
"Bapak mau dibacain surat yang lain?"
"Cukup..."
"Nanti di rumah, Intan tilawah lagi buat Bapak ya?" Pak Guru mengangguk.
Keluarga Bapak Guru, wali kelas dan kawan saya kini berkumpul di sekitar ranjang Bapak Guru. Melihat Bapak Guru yang belum tidur juga, mereka menyuruhnya tidur. Di luar dugaan, Bapak Guru mengatakan
"Tadi udah tidur, pas Intan ngaji..."
Wahai Allah, Engkaulah yang menerbitkan matahari di timur dan menenggelamkannya di barat, Engkaulah yang
menopang gunung-gunung sehingga ia kokoh dalam kuasaMu. Engkaulah yang menenangkan gemuruh badai, Engkaulah yang menjaga setiap makhluk dalam lingkup kuasaMu...
Wahai Allah, lapangkanlah hati Bapak Guru untuk selalu bersyukur dan bersabar dalam tiap takdir yang Engkau gariskan padanya...
Saya menangis lagi, menangis lantaran melihat Bapak Guru yang membawa ingatan saya pada Bapak. Menangis lantaran belum memenuhi amanat Bapak untuk memperbaiki tilawah saya yang tak baik itu. Menangis lantaran ada yang tertidur ketika saya bertilawah...
5 Oktober 2011
Saturday, September 17, 2011
Pekerja Sosial?
Jangan, jangan menyalahkan karena mungkin kitapun tak bisa berjiwa ksatria atau berhati mulia.
Sepertinya beberapa hari ini Allah benar-benar ingin saya belajar. Iya, belajar. Saya menegarkan hati untuk mengerjakan skripsi saya di Indramayu. Sudah saya plotkan hari Ahad sampai Selasa akan saya lalui di Indramayu, selama satu bulan mungkin. Karena rencana inilah, saya menyeleksi beberapa amanah agar dapat fokus mengambil data. Saya bergabung dengan tim konseling di RS. Bhayangkara, salah satu rumah sakit di Indramayu yang menjadi rujukan bagi VCT atau konseling khusus HIV/AIDS. Jarak dari rumah menuju rumah sakit tak kurang dari puluhan kilometer, dengan waktu tempuh empatpuluh lima menit tanpa hambatan. Ya, pada akhirnya saya benar-benar menikmati jalur pantura.
Saya, yang memiliki kenangan tersendiri dengan rumah sakit harus benar-benar siap secara lahiriah. betapa tidak, rumah sakit memiliki aroma yang khas yang kadang memaksa saya untuk menahan napas beberapa saat. Kawan, ternyata di sinilah Allah ingin saya belajar.
Saya memang orang Indramayu asli, namun saya tidak mengenal Indramayu. Dan karena hal itu, saya tersindir berat ketika ibu konselor yang menemani hari-hari saya di sana bercerita banyak tentang kondisi Indramayu, tentang kasus-kasus HIV/AIDS yang terjadi di Indramayu. Oh Tuhan, saya sendiri tak habis pikir, ternyata banyak juga kasus yang terjadi!
"Walaupun di sini banyak tenaga kesehatan yang dilatih VCT, tetap saja setiap ada kasus baru akan dirujuk ke sini. Sementara di sini, konselor VCT ya hanya saya. Padahal di beberapa puskesmas sudah ada tenaga konselor VCT." ujar ibu konselor. Saya hanya manggut-manggut. Menurut A Ipang, aktivis MCR Indramayu ketika saya SMA dulu, konselor VCT di Indramayu baru satu orang, ya si ibu ini. Ternyata banyak.
" Saya kadang bingung, saya yang bukan orang asli Indramayu saja mau menjalani ini semua. Sementara putra daerahnya mana?" deg, saya tersindir.
***
Saya jadi memikirkan untuk beraktivitas di Indramayu saja. Mungkin.
***
Beberapa waktu lalu, begitu saya menginjakkan kaki lagi di Bandung, seorang rekan mengajak saya ke Dinas Sosial di Cimahi sana. Katanya untuk menemani. Nyatanya, sesampai di sana kami berdua dipisahkan dan masuk ke ruangan yang berbeda untuk mengikuti kegiatan yang berbeda. Saya melongo. Apa-apaan ini? Begitupun kawan saya. Kami sama sekali tidak tahu, ada agenda apa di Dinsos. Maka, dengan ketidaktahuan kami, kami ikuti saja lur kegiatan yang ada. Kami ditanya macam-macam, karena status kami sebagai pekerja sosial di P2TP2A. Lha, saya bukan peksos (pekerja sosial, red) kok saya hanya relawan, tapi rasanya memang tidak berbeda tugasnya...
Tapi saya jalani saja dan banyak hal yang saya dapat dari diskusi bersama rekan-rekan peksos dari berbagai lembaga yang hadir saat itu. Seorang peksos yang sebenarnya tidak mengambil pekerjaan lain di luar pekerjaannya sebagai peksos, tidak mendua. Otak saya mencerna kata-kata tersebut, bagi saya sungguh luar biasa kalau memang ada orang macam itu. Bisa kau bayangkan, berapa imbalan yang didapat dari seorang peksos? Sementara pekerjaannya mungkin segudang, pekerjaan yang dilakukan untuk kepentingan orang lain yang membutuhkan.
***
Sore itu, hari kesekian setelah saya kembali ke Bandung, banyak hal yang memenuhi pikiran saya. Hal itu seperti skripsi dan segala atributnya, yayasan, P2TP2A, dan rumah. Akhirnya selepas shalat Maghrib, saya berbincang dengan seorang kawan di shelter. Obrolan tentang kondisi skripsi saya pada awalnya, dan merembet ke hal-hal lain berkaitan dengan pekerjaan.
Kami berdua adalah relawan, baik di P2TP2A maupun di yayasan. Dulu sayapun menjadi relawan di 25 Messengers, juga sempat secara tidak langsung dianggap relawan MCR Jawa Barat. Apa yang istimewa dari seorang relawan? Hm, saya hanya senang menjalaninya, itu saja. Kebetulan kawan saya itu juga baru saja diterima sebagai relawan untuk Pertemuan Nasional HIV/AIDS dan sempat menjadi relawan yang berangkat ke Merapi beberapa waktu lalu. Maka obrolan kami mengarah-arah ke situ.
Kawan saya ini mengklaim dirinya tidak begitu memiliki jiwa sosial, semua dijalani lantaran ingin saja. Ia bercerita bahwa di luar sana, di tempat yang tidak kita tahu, ada orang-orang yang benar-benar mendedikasikan diri untuk kehidupan sosial. Ada bidan yang berhasil membangun sebuah desa terpencil, yang pada awalnya tidak mendapat penerimaan baik dari masyarakat. Ada seorang pilot yang langsung tergerak hatinya untuk menolong korban bencana, dan, sama seperti bidan yang tadi saya sebutkan, juga mengalami penolakan dari masyarakat, baru beberapa bulan kemudian masyarakat mau menerima santunannya. Dan banyak lagi orang yang melakukan hal-hal luar biasa yang sama sekali tidak di kenal di luar sana. Sementara kami?
***
Saya sudah beranjak tidur, seperti biasa, dengan earphone terselip di telinga saya, ketika tiba-tiba handphone saya berbunyi. Duh, sudah jam sebelas malam! Siapa orang yang tiba-tiba menelepon, seperti tidak ada waktu lagi saja! Ternyata atasan saya. Ia bilang kalau malam ini akan datang korban trafiking. Hm, saya hanya menahan-nahan perasaan saya. Kesal sesungguhnya, apa tidak bisa besok saja? Ini sudah larut malam!
Saya hanya sempat tidur satu jam, ketika lagi-lagi ada telepon masuk. Pak satpam yang menelepon, katanya orang dari Polda sudah datang mengantarkan korban. Saya melirik jam, gila! Sudah jam satu dini hari! Dengan tersungut-sungut, saya menemui mereka di kantor. Seorang gadis seumuran adik saya sedang duduk di teras kantor bersama bapak dan ibu dari Polda. Saat itu, rasa kantuk sudah mulai saya singkirkan, dan rasa kesal saya harap cepat-cepat terhapus.
***
Saya membayangkan seorang dokter atau bidan yang bisa mendapat pasien di waktu-waktu tak terduga. Mungkin ada yang langsung melakukan pelayanan terhadap pasien tersebut dan menahan-nahan egonya sendiri untuk bersitirahat. Mungkin ada juga yang seperti saya, melakukan dengan setengah hati. Dan mungkin pula ada yang langsung menolak, dan berkata "Besok saja datang ke sini lagi"
Menjadi seseorang yang mengikhtiarkan diri untuk membantu sesama memang tidak mudah, dan tidak akan mudah, dan hanya orang-orang tertentu saja yang mungkin dapat melakukannya sepenuh hati.
#sebuah renungan bagi diri sendiri
Wednesday, July 27, 2011
A Cup of Memories
Ada seorang kawan yang menandai saya dalam catatannya, catatan tentang ayah. Saya jadi memikirkan Bapak. Tanggal 25 Juli lalu tepat dua bulan Bapak pergi, dan pastinya, kenangan-kenangan Bapak masih dapat saya ingat. Dan, karena tanggal 26 adalah hari lahir Bapak, maka mungkin adalah saat yang tepat bagi saya untuk menulis (setidaknya), hal-hal yang menghiasi perjalanan saya bersama Bapak selama lebih dari 22 tahun.
Kawan saya mengatakan,
"Bapak tak pernah pilih kasih. Namun dia punya pilihan tentang siapa anak yang paling dia percayai. Itulah anak yang paling dekat dengannya."
Itu juga yang terjadi pada saya. Saya khawatir akan benar-benar ditinggal jauh oleh Bapak kurang lebih sejak dua tahun lalu. Waktu itu kondisi kesehatan Bapak sudah menurun. Bapak yang biasanya menjemput saya ketika saya pulang ke Indramayu, waktu itu tidak lagi menjemput saya. Di kepulangan terakhir sebelum Bapak sakit, Bapak menjemput saya, seperti biasa naik becak langganannya. Bapak menceritakan banyak hal ketika berada di becak, salah satunya Bapak menceritakan bahwa sebelum menjemput saya tadi, beliau ke laboratorium, mengecek kesehatan. Katanya, besokpun hasilnya sudah ada. Bapak menceritakan dengan cerianya.
Saya tidak tahu kapan tepatnya saya menyukai diskusi-diskusi panjang bersama Bapak, atau pergi menghabiskan waktu berdua bersama Bapak. Yang pasti, dulu Bapak adalah orang yang saya takuti. Takut, bukan segan. Saya tidak menyadari kedekatan kami. Semenjak Bapak memutuskan mengambil pensiun dini, Bapak memang lebih banyak bersama kami, mengajak kami anak-anaknya untuk berjalan-jalan. Dan biasanya memang saya yang ikut serta. Saya baru menyadari kedekatan ini ketika suatu hari Mamah bercerita tentang seorang tetangga yang mengatakan bahwa Intan itu sayang banget ya sama Pak Iwo. Selalu ngegandeng tangannya kalau jalan bareng. Ternyata ada ya, yang memperhatikan kami!
Pada akhirnya memang, sayalah yang menemani Bapak mengambil hasil laboratorium. Takut dan ingin menangis, itu yang saya rasakan. Dan sehari setelah itu memang kondisi Bapak memburuk, sampai-sampai saya harus mengantarnya ke Trisi, tempat Bapak membuka usaha. Entah kenapa, bukan kakak saya yang lain, padahal waktu itu hampir semua anak Bapak berkumpul.
"Bapak biasanya punya satu anak yang khusus sika dia suruh-suruh. Bukan karena dia mau menyusahkan, tapi karena itulah anak yang dia percayai."
Saya pikir itu juga terjadi pada saya. Sebagai anak yang tidak ditakdirkan menjadi anak bungsu, saya menempati posisi strategis untuk disuruh-suruh oleh orang di rumah. Dulu saya berpikir saya bisa menyerahkan 'jabatan' itu ke Sekar, adik saya. Nyatanya, ketika Sekar ngambek tidak mau disuruh, Bapak atau Mamah melerai dan kembali mendaulat saya sebagai anak yang suka disuruh-suruh.
Di masa-masa SMA, ketika kendaraan di rumah kami hanya sepeda, saya diminta Bapak untuk menjadi kepanjangan tangan Bapak dalam menjalankan usahanya. Itu juga karena sayalah yang paling besar di rumah karena ketiga kakak saya sudah tinggal di kota lain. Setiap hari selepas maghrib (saya pulang sekolah jam 5 atau setengah enam saat itu), saya mengayuh sepeda beberapa kilometer untuk membantu Bapak, tentu dengan pembayaran layaknya 'profesional'. Lumayan untuk menambah uang saku untuk keesokan harinya. Dulu sempat terpikir, saya akan melanjutkan usaha tersebut dan berharap Bapak akan mewariskannya pada saya. :)
"Bapak akan dengan senang hati menceritakan tentang anak-anaknya pada teman-teman dekatnya. Itulah kenapa teman-teman dekat bapak tahu banyak tentang anaknya."
Ini hal yang paling sering Bapak lakukan. Di ruang tamu pada rumah kami yang dulu, Bapak sengaja memasang foto kami anak-anaknnya. Jadi setiap kali pelanggan Bapak datang, Bapak bisa menceritakan kami berlima.
Di kelas tiga SMA, Bapak dengan riangnya pergi menuju bank tempat dulu Bapak bekerja. Alasan utamanya adalah untuk membayarkan uang pendaftaran kuliah saya, namun untuk alasan kedua lah Bapak mengusulkan diri untuk menggantikan Mamah mengurusi urusan sekolah anaknya. Bapak ingin teman-temannya tahu kalau saya, anak keempat Bapak, juga akan kuliah.
"Caranya yang khas untuk membuat anak-anak mengenalnya adalah mengajak mereka ke tempat-tempat kesukaannya. Warung makan, pasar loak, dll."
Saya tidak ingat pasti apa tempat kesukaan Bapak, namun yang jelas, Bapak sering mengajak saya ke pelosok-pelosok Indramayu sewaktu Bapak masih menjadi pegawai bank. Bapak suka mampir ke pasar ikan yang aromanya sungguh tidak saya suka, ke laut, Pasar Mambo, ke kantornya. Itu mungkin karena Bapak ingin saya tahu aktivitas Bapak. Dan saya menikmatinya, meskipun dulu, seringkali saya tertidur di perjalanan pulang kami ke rumah.
"Di tempat itu, dia akan memilihkan makanan untukmu. Itulah makanan kesukaannya. Bapak tahu kelak anak-anak akan menyukai apa yang menjadi kesukaannya."
Sepulang bekerja, Bapak biasanya membawakan makanan yang cukup aneh bagi kami. Bapak mengenalkan kami pada ubi cilembu yang dibelinya di tukang sayur dekat kantor Bapak. Bapak mengajak ke pasar ikan bukan karena Bapak menyukai ikan, tapi Bapak ingin kami anak-anaknya mengonsumsi ikan untuk memenuhi gizi kami. Tapi saya sama seperti Bapak, jadi saya ngadat tidak makan ikan. Di Pasar Mambo, Bapak suka membelikan kocar-kacir, makanan tradisonal yang disiram dengan cairan gula merah, kelapa parut, dan kacang hijau sangrai yang ditumbuk kasar di atas kue ketan. Makanan itu saya sukai, juga rumbah yang sering Bapak beli dari pinggir jalan DI Panjaitan.
Saat Bapak masih sehat, selepas subuh ia berjalan kaki menuju Kampung Arab atau waduk, tempat biasanya pedagang-pedagang kue menjajakan dagangannya. Kami sering diajak (namun seringkali kami masih tertidur). Di sana, Bapak memilihkan berbagai kue, terkadang aneh bagi kami namun kami selalu menyukainya. bapak tampaknya seorang yang pandai memilihkan makanan untuk kami. Itu salah satu cara Bapak membangunkan kami dengan menyediakan sarapan yang luar biasa.
"Dia tak akan sungkan bolos ngantor demi menemani anak-anaknya."
Sewaktu masih jadi pegawai bank, yang saya tahu Bapak tak pernah membolos. Namun ia meluangkan waktu di akhir pekan untuk mengajak kami berjalan-jalan ke kota. Ia juga memutuskan mengambil pensiun dini ketika saya masih kelas dua sekolah menengah pertama, agar lebih bebas. Begitu alasannya.
"Dia diam-diam sedih saat tahu bahwa dirinya tak mampu berbuat apa-apa lagi untuk anak-anaknya."
Saya menyadari hal ini setelah bulan syawal satu setengah tahu lalu ketika Bapak terkena stroke. Ia secara otomatis 'pensiun' dari aktivitasnya. bapak tidak lagi menjadi 'ujung tombak' kami. Bapak selalu menangis ketika kami, anak-anaknya, menceritakan sesuatu kepadanya. Dan ia, seperti yang dikatakan Mamah, mengatakan bahwa, Intan mah ga akan kebagian. Bapak melalui hari-hari yang sulit di rumah sakit. Saat itu, kakak ketiga saya hendak wisuda. Kami selalu membisikkan Bapak agar kuat dan bisa lekas sehat agar bisa menghadiri wisuda. Saya tahu Bapak berusaha keras, meskipun pada akhirnya, Bapak hanya menunggu prosesi wisuda tanpa pernah melihat kakak saya benar-benar diwisuda. Mungkin Bapak merasa sedih saat itu. Dan setelah wisuda kakak saya, lewat kata-katanya di atas tadi, Bapak seolah-olah telah yakin bahwa saya tak akan disaksikan Bapak saat wisuda nanti, pun sekedar menunggui sampai prosesi wisuda saya selesai.
"Dia menjadi orang pertama mengajari anak-anak untuk tegar menjalani hidup."
Boleh dikatakan bahwa keluarga kami bukanlah keluarga serba ada. Bapak berjuang demikian besar untuk membela kami, agar anak-anaknya ini dapat tercukupi kebutuhannya. Bapak tak pernah mengajari kami hidup mewah. Yang ia tahu, setiap hal membutuhkan proses. Maka ia membiarkan saya menjadi pedagang. Maka ia tak pernah melarang saya mengikuti beragam aktivitas. Ia tak pernah mengurusi masalah saya di sekolah karena ia ingin saya dapat menghadapinya sendiri. Bapak memberikan opsi bagi saya untuk masuk ke kelas biasa, namun karena keegoisan saya, pada akhirnya saya masuk kelas unggulan. Namun Bapak tidak marah atau melarang, ia membiarkan saya masuk ke lingkungan yang sebenarnya menjadi jalan terberat sepanjang masa SMA.
"Dia bahagia saat anak-anaknya bisa membuat keputusan sendiri. Tapi dia juga sedih karena itu berarti sudah waktunya untuk lepas. Dia mengajari anak-anak untuk mengambil keputusan. Padahal dia tahu bahwa itulah yang akan membuat mereka meninggalkannya. "
Bapak tidak memilihkan jurusan apa yang harus saya tempuh, pun memilihkan ke universitas mana saya sebaiknya masuk. Ia hanya menganngguk ketika saya bilang saya akan mengikuti PMDK UPI, jurusan Psikologi.
Ketika Bapak mendengar putrinya hendak diajak menikah, yang terbersit olehnya adalah baik tidakkah laki-laki ini? Apakah ia memiliki tato? Dan ia tidak memaksa putrinya untuk mengikuti apa yang sebenarnya Bapak kehendaki. Ia membiarkan putrinya mengambil keputusan sendiri. Karena ia tahu, putrinya telah dewasa untuk memutuskan kehidupannya sendiri.
"Saat bapak sadar bahwa sakitnya tak akan kunjung sembuh, dia pun membuat harapan terakhir."
Dulu, suatu hari di masa-masa sekolah menengah, saya membaca Al-Qur'an di ruang tamu. Bapak turut duduk di sana, yang ternyata mendengarkan apa yang saya baca. Dengan sebuah komentar sederhana, Bapak mengatakan ngaji saya tidak bagus. Itu harapan yang secara tidak langsung Bapak tanamkan pada diri saya untuk mempelajari Al-Qur'an, untuk dapat membacanya secara tartil. Bukan karena Bapak jagoan dalam membaca Al-Qur'an, justru karena Bapak ingin saya lebih baik dari dirinya.
Bapak sangat ingin melihat salah satu putrinya menikah. Saat kakak saya mengatakan ia akan menikah, Bapak langsung meminta kalender dan mencoret-coretnya. Coretan itu masih ada di balik kertas kalender . Coretan tentang tanggal untuk kakak saya menikah. Bapak memberi kenangan berupa tanggal bagi kakak saya. Setidaknya, meskipun Bapak tidak melihat pernikahan kakak, Bapak tahu kalau kakak akan segera menikah, di tanggal yang telah Bapak siapkan.
Setelah Bapak pergi, Mamah mengatakan bahwa Bapak pernah mengutarakan keinginannya untuk dapat membaca surat Al-Mulk, namun sampai penghujung, Bapak belum sempat mempelajarinya.
Bapak, rasanya tidak mungkin memenuhi cangkir ini dengan kisahmu. Namun, engkau tentunya akan menikmati secangkir teh dibanding segelas kopi yang saya hidangkan. Maka saya tahu, secangkir kisah ini mungkin akan lebih kau sukai.
Tanjobi omedetto, otoosan.
untuk Bapak yang namanya tertera pada nama saya.
Kawan saya mengatakan,
"Bapak tak pernah pilih kasih. Namun dia punya pilihan tentang siapa anak yang paling dia percayai. Itulah anak yang paling dekat dengannya."
Itu juga yang terjadi pada saya. Saya khawatir akan benar-benar ditinggal jauh oleh Bapak kurang lebih sejak dua tahun lalu. Waktu itu kondisi kesehatan Bapak sudah menurun. Bapak yang biasanya menjemput saya ketika saya pulang ke Indramayu, waktu itu tidak lagi menjemput saya. Di kepulangan terakhir sebelum Bapak sakit, Bapak menjemput saya, seperti biasa naik becak langganannya. Bapak menceritakan banyak hal ketika berada di becak, salah satunya Bapak menceritakan bahwa sebelum menjemput saya tadi, beliau ke laboratorium, mengecek kesehatan. Katanya, besokpun hasilnya sudah ada. Bapak menceritakan dengan cerianya.
Saya tidak tahu kapan tepatnya saya menyukai diskusi-diskusi panjang bersama Bapak, atau pergi menghabiskan waktu berdua bersama Bapak. Yang pasti, dulu Bapak adalah orang yang saya takuti. Takut, bukan segan. Saya tidak menyadari kedekatan kami. Semenjak Bapak memutuskan mengambil pensiun dini, Bapak memang lebih banyak bersama kami, mengajak kami anak-anaknya untuk berjalan-jalan. Dan biasanya memang saya yang ikut serta. Saya baru menyadari kedekatan ini ketika suatu hari Mamah bercerita tentang seorang tetangga yang mengatakan bahwa Intan itu sayang banget ya sama Pak Iwo. Selalu ngegandeng tangannya kalau jalan bareng. Ternyata ada ya, yang memperhatikan kami!
Pada akhirnya memang, sayalah yang menemani Bapak mengambil hasil laboratorium. Takut dan ingin menangis, itu yang saya rasakan. Dan sehari setelah itu memang kondisi Bapak memburuk, sampai-sampai saya harus mengantarnya ke Trisi, tempat Bapak membuka usaha. Entah kenapa, bukan kakak saya yang lain, padahal waktu itu hampir semua anak Bapak berkumpul.
"Bapak biasanya punya satu anak yang khusus sika dia suruh-suruh. Bukan karena dia mau menyusahkan, tapi karena itulah anak yang dia percayai."
Saya pikir itu juga terjadi pada saya. Sebagai anak yang tidak ditakdirkan menjadi anak bungsu, saya menempati posisi strategis untuk disuruh-suruh oleh orang di rumah. Dulu saya berpikir saya bisa menyerahkan 'jabatan' itu ke Sekar, adik saya. Nyatanya, ketika Sekar ngambek tidak mau disuruh, Bapak atau Mamah melerai dan kembali mendaulat saya sebagai anak yang suka disuruh-suruh.
Di masa-masa SMA, ketika kendaraan di rumah kami hanya sepeda, saya diminta Bapak untuk menjadi kepanjangan tangan Bapak dalam menjalankan usahanya. Itu juga karena sayalah yang paling besar di rumah karena ketiga kakak saya sudah tinggal di kota lain. Setiap hari selepas maghrib (saya pulang sekolah jam 5 atau setengah enam saat itu), saya mengayuh sepeda beberapa kilometer untuk membantu Bapak, tentu dengan pembayaran layaknya 'profesional'. Lumayan untuk menambah uang saku untuk keesokan harinya. Dulu sempat terpikir, saya akan melanjutkan usaha tersebut dan berharap Bapak akan mewariskannya pada saya. :)
"Bapak akan dengan senang hati menceritakan tentang anak-anaknya pada teman-teman dekatnya. Itulah kenapa teman-teman dekat bapak tahu banyak tentang anaknya."
Ini hal yang paling sering Bapak lakukan. Di ruang tamu pada rumah kami yang dulu, Bapak sengaja memasang foto kami anak-anaknnya. Jadi setiap kali pelanggan Bapak datang, Bapak bisa menceritakan kami berlima.
Di kelas tiga SMA, Bapak dengan riangnya pergi menuju bank tempat dulu Bapak bekerja. Alasan utamanya adalah untuk membayarkan uang pendaftaran kuliah saya, namun untuk alasan kedua lah Bapak mengusulkan diri untuk menggantikan Mamah mengurusi urusan sekolah anaknya. Bapak ingin teman-temannya tahu kalau saya, anak keempat Bapak, juga akan kuliah.
"Caranya yang khas untuk membuat anak-anak mengenalnya adalah mengajak mereka ke tempat-tempat kesukaannya. Warung makan, pasar loak, dll."
Saya tidak ingat pasti apa tempat kesukaan Bapak, namun yang jelas, Bapak sering mengajak saya ke pelosok-pelosok Indramayu sewaktu Bapak masih menjadi pegawai bank. Bapak suka mampir ke pasar ikan yang aromanya sungguh tidak saya suka, ke laut, Pasar Mambo, ke kantornya. Itu mungkin karena Bapak ingin saya tahu aktivitas Bapak. Dan saya menikmatinya, meskipun dulu, seringkali saya tertidur di perjalanan pulang kami ke rumah.
"Di tempat itu, dia akan memilihkan makanan untukmu. Itulah makanan kesukaannya. Bapak tahu kelak anak-anak akan menyukai apa yang menjadi kesukaannya."
Sepulang bekerja, Bapak biasanya membawakan makanan yang cukup aneh bagi kami. Bapak mengenalkan kami pada ubi cilembu yang dibelinya di tukang sayur dekat kantor Bapak. Bapak mengajak ke pasar ikan bukan karena Bapak menyukai ikan, tapi Bapak ingin kami anak-anaknya mengonsumsi ikan untuk memenuhi gizi kami. Tapi saya sama seperti Bapak, jadi saya ngadat tidak makan ikan. Di Pasar Mambo, Bapak suka membelikan kocar-kacir, makanan tradisonal yang disiram dengan cairan gula merah, kelapa parut, dan kacang hijau sangrai yang ditumbuk kasar di atas kue ketan. Makanan itu saya sukai, juga rumbah yang sering Bapak beli dari pinggir jalan DI Panjaitan.
Saat Bapak masih sehat, selepas subuh ia berjalan kaki menuju Kampung Arab atau waduk, tempat biasanya pedagang-pedagang kue menjajakan dagangannya. Kami sering diajak (namun seringkali kami masih tertidur). Di sana, Bapak memilihkan berbagai kue, terkadang aneh bagi kami namun kami selalu menyukainya. bapak tampaknya seorang yang pandai memilihkan makanan untuk kami. Itu salah satu cara Bapak membangunkan kami dengan menyediakan sarapan yang luar biasa.
"Dia tak akan sungkan bolos ngantor demi menemani anak-anaknya."
Sewaktu masih jadi pegawai bank, yang saya tahu Bapak tak pernah membolos. Namun ia meluangkan waktu di akhir pekan untuk mengajak kami berjalan-jalan ke kota. Ia juga memutuskan mengambil pensiun dini ketika saya masih kelas dua sekolah menengah pertama, agar lebih bebas. Begitu alasannya.
"Dia diam-diam sedih saat tahu bahwa dirinya tak mampu berbuat apa-apa lagi untuk anak-anaknya."
Saya menyadari hal ini setelah bulan syawal satu setengah tahu lalu ketika Bapak terkena stroke. Ia secara otomatis 'pensiun' dari aktivitasnya. bapak tidak lagi menjadi 'ujung tombak' kami. Bapak selalu menangis ketika kami, anak-anaknya, menceritakan sesuatu kepadanya. Dan ia, seperti yang dikatakan Mamah, mengatakan bahwa, Intan mah ga akan kebagian. Bapak melalui hari-hari yang sulit di rumah sakit. Saat itu, kakak ketiga saya hendak wisuda. Kami selalu membisikkan Bapak agar kuat dan bisa lekas sehat agar bisa menghadiri wisuda. Saya tahu Bapak berusaha keras, meskipun pada akhirnya, Bapak hanya menunggu prosesi wisuda tanpa pernah melihat kakak saya benar-benar diwisuda. Mungkin Bapak merasa sedih saat itu. Dan setelah wisuda kakak saya, lewat kata-katanya di atas tadi, Bapak seolah-olah telah yakin bahwa saya tak akan disaksikan Bapak saat wisuda nanti, pun sekedar menunggui sampai prosesi wisuda saya selesai.
"Dia menjadi orang pertama mengajari anak-anak untuk tegar menjalani hidup."
Boleh dikatakan bahwa keluarga kami bukanlah keluarga serba ada. Bapak berjuang demikian besar untuk membela kami, agar anak-anaknya ini dapat tercukupi kebutuhannya. Bapak tak pernah mengajari kami hidup mewah. Yang ia tahu, setiap hal membutuhkan proses. Maka ia membiarkan saya menjadi pedagang. Maka ia tak pernah melarang saya mengikuti beragam aktivitas. Ia tak pernah mengurusi masalah saya di sekolah karena ia ingin saya dapat menghadapinya sendiri. Bapak memberikan opsi bagi saya untuk masuk ke kelas biasa, namun karena keegoisan saya, pada akhirnya saya masuk kelas unggulan. Namun Bapak tidak marah atau melarang, ia membiarkan saya masuk ke lingkungan yang sebenarnya menjadi jalan terberat sepanjang masa SMA.
"Dia bahagia saat anak-anaknya bisa membuat keputusan sendiri. Tapi dia juga sedih karena itu berarti sudah waktunya untuk lepas. Dia mengajari anak-anak untuk mengambil keputusan. Padahal dia tahu bahwa itulah yang akan membuat mereka meninggalkannya. "
Bapak tidak memilihkan jurusan apa yang harus saya tempuh, pun memilihkan ke universitas mana saya sebaiknya masuk. Ia hanya menganngguk ketika saya bilang saya akan mengikuti PMDK UPI, jurusan Psikologi.
Ketika Bapak mendengar putrinya hendak diajak menikah, yang terbersit olehnya adalah baik tidakkah laki-laki ini? Apakah ia memiliki tato? Dan ia tidak memaksa putrinya untuk mengikuti apa yang sebenarnya Bapak kehendaki. Ia membiarkan putrinya mengambil keputusan sendiri. Karena ia tahu, putrinya telah dewasa untuk memutuskan kehidupannya sendiri.
"Saat bapak sadar bahwa sakitnya tak akan kunjung sembuh, dia pun membuat harapan terakhir."
Dulu, suatu hari di masa-masa sekolah menengah, saya membaca Al-Qur'an di ruang tamu. Bapak turut duduk di sana, yang ternyata mendengarkan apa yang saya baca. Dengan sebuah komentar sederhana, Bapak mengatakan ngaji saya tidak bagus. Itu harapan yang secara tidak langsung Bapak tanamkan pada diri saya untuk mempelajari Al-Qur'an, untuk dapat membacanya secara tartil. Bukan karena Bapak jagoan dalam membaca Al-Qur'an, justru karena Bapak ingin saya lebih baik dari dirinya.
Bapak sangat ingin melihat salah satu putrinya menikah. Saat kakak saya mengatakan ia akan menikah, Bapak langsung meminta kalender dan mencoret-coretnya. Coretan itu masih ada di balik kertas kalender . Coretan tentang tanggal untuk kakak saya menikah. Bapak memberi kenangan berupa tanggal bagi kakak saya. Setidaknya, meskipun Bapak tidak melihat pernikahan kakak, Bapak tahu kalau kakak akan segera menikah, di tanggal yang telah Bapak siapkan.
Setelah Bapak pergi, Mamah mengatakan bahwa Bapak pernah mengutarakan keinginannya untuk dapat membaca surat Al-Mulk, namun sampai penghujung, Bapak belum sempat mempelajarinya.
Bapak, rasanya tidak mungkin memenuhi cangkir ini dengan kisahmu. Namun, engkau tentunya akan menikmati secangkir teh dibanding segelas kopi yang saya hidangkan. Maka saya tahu, secangkir kisah ini mungkin akan lebih kau sukai.
Tanjobi omedetto, otoosan.
untuk Bapak yang namanya tertera pada nama saya.
Sunday, June 19, 2011
Perasaan Ini
Kembali lagi ke Gegerkalong. Sebenarnya biasa saja, toh saya sudah sering mondar-mandir di sana empat tahun ini, namun akhir-akhir ini tentunya berbeda. Saya memang sudah jarang berkeliaran di sana, tidak seperti dulu. Maka saya ingin menikmatinya, dari mulai mengamati ada jajanan baru apa yang bisa saya cicipi. Ah, jadi ingat… dulu saya pernah membuat satu note yang isinya tentang daftar jajanan di Gegerkalong!
Hm, saya masih punya waktu satu setengah jam sebelum nanti harus menghadiri suatu acara. Namun saya bingung harus kemana, sementara kunci kamar kosan saya tinggal di shelter. Maka jadilah saya terus berjalan, tanpa tujuan yang jelas. Hanya menikmati Gegerkalong sampai nanti adzan Ashar tiba. Nyatanya, seseorang menyapa saya. Itu dua orang kawan saya, sedang menunggu jus yang mereka pesan.
“Mau kemana, Ntan?” tanya kawan saya. Saya malah bingung ditanya macam itu, lha saya memang sedang tidak bertujuan saat itu.
“Ee… enggak tau ni Va, bingung!” ujar saya, sambil nyengir tentunya.
“Udah makan belum? Ke kosan saya yuk! Intan ga usah beli nasi, tinggal lauknya aja. Ya?” ditawari seperti itu saya bergirang hati, alhamdulillaah rezeki. Akhirnya saya membeli lauk makan dan ikut mereka menuju kosan kawan saya.
Hm, sudah lama tidak beraktivitas di sekitaran kampus dan Gegerkalong membuat saya sedikit loading ketika mereka ngobrol. Secara, walaupun saya dan salah satu dari kawan saya ini sama-sama dari Indramayu, namun aktivitas kami berbeda. Dia beraktivitas di LDK sama dengan kawan saya yang satunya, sementara saya asyik dengan dunia saya yang abu-abu. Ya sudahlah, saya ikut saja obrolan dua sahabat ini. Sedikit-sedikit saya paham kok. Hehe…
Tak terasa, waktu Ashar sudah tiba. Kami bertiga shalat tanpa perlu meributkan siapa yang akan jadi imam. Duh, kok tiba-tiba saya jadi merasakan sesuatu ya? Sst, kok shalatnya malah dihantui perasaan macam-macam sih? Astaghfirullaah…
Setelah shalat, saya dan kawan saya pamit. Saya memang harus bergegas, tak ingin telat lagi seperti pekan kemarin. Di jalan, kami bersua sekelompok akhwat jilbaber, salah satunya ada adik tingkat saya. Seperti biasa, kami saling mengucap salam dan bersalaman. Duh, perasaan itu kok datang lagi ya? perasaan itu terus mengganggu saya sampai sore telah lewat. Ah, rasanya ingin sekali mengatakan sesuatu. Mengatakan tentang apa yang saya rasakan.
Bisakah saya menjadi seperti mereka? Bukan sebenar-benarnya menyerupai mereka, namun bisakah saya menjadi ‘akhwat’ seperti mereka? Yang setiap perilakunya akan membuat orang mengingat Allah, yang malam-malamnya dihiasi indahnya bertaqorub bersama Allah, yang lisannya senantiasa terjaga dari sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat, yang keterjagaannya diberkahi, yang semangatnya untuk menyeru Islam tak putus oleh terpaan-terpaan angin, yang persaudaraannya diikat oleh kasih sayang Allah. Duh, rasanya masih jauh sekali diri ini…
gegerkalong, sepanjang jalan bisa kau temukan akhwat-akhwat shalihah.
19 Juni 2011
Hm, saya masih punya waktu satu setengah jam sebelum nanti harus menghadiri suatu acara. Namun saya bingung harus kemana, sementara kunci kamar kosan saya tinggal di shelter. Maka jadilah saya terus berjalan, tanpa tujuan yang jelas. Hanya menikmati Gegerkalong sampai nanti adzan Ashar tiba. Nyatanya, seseorang menyapa saya. Itu dua orang kawan saya, sedang menunggu jus yang mereka pesan.
“Mau kemana, Ntan?” tanya kawan saya. Saya malah bingung ditanya macam itu, lha saya memang sedang tidak bertujuan saat itu.
“Ee… enggak tau ni Va, bingung!” ujar saya, sambil nyengir tentunya.
“Udah makan belum? Ke kosan saya yuk! Intan ga usah beli nasi, tinggal lauknya aja. Ya?” ditawari seperti itu saya bergirang hati, alhamdulillaah rezeki. Akhirnya saya membeli lauk makan dan ikut mereka menuju kosan kawan saya.
Hm, sudah lama tidak beraktivitas di sekitaran kampus dan Gegerkalong membuat saya sedikit loading ketika mereka ngobrol. Secara, walaupun saya dan salah satu dari kawan saya ini sama-sama dari Indramayu, namun aktivitas kami berbeda. Dia beraktivitas di LDK sama dengan kawan saya yang satunya, sementara saya asyik dengan dunia saya yang abu-abu. Ya sudahlah, saya ikut saja obrolan dua sahabat ini. Sedikit-sedikit saya paham kok. Hehe…
Tak terasa, waktu Ashar sudah tiba. Kami bertiga shalat tanpa perlu meributkan siapa yang akan jadi imam. Duh, kok tiba-tiba saya jadi merasakan sesuatu ya? Sst, kok shalatnya malah dihantui perasaan macam-macam sih? Astaghfirullaah…
Setelah shalat, saya dan kawan saya pamit. Saya memang harus bergegas, tak ingin telat lagi seperti pekan kemarin. Di jalan, kami bersua sekelompok akhwat jilbaber, salah satunya ada adik tingkat saya. Seperti biasa, kami saling mengucap salam dan bersalaman. Duh, perasaan itu kok datang lagi ya? perasaan itu terus mengganggu saya sampai sore telah lewat. Ah, rasanya ingin sekali mengatakan sesuatu. Mengatakan tentang apa yang saya rasakan.
Bisakah saya menjadi seperti mereka? Bukan sebenar-benarnya menyerupai mereka, namun bisakah saya menjadi ‘akhwat’ seperti mereka? Yang setiap perilakunya akan membuat orang mengingat Allah, yang malam-malamnya dihiasi indahnya bertaqorub bersama Allah, yang lisannya senantiasa terjaga dari sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat, yang keterjagaannya diberkahi, yang semangatnya untuk menyeru Islam tak putus oleh terpaan-terpaan angin, yang persaudaraannya diikat oleh kasih sayang Allah. Duh, rasanya masih jauh sekali diri ini…
gegerkalong, sepanjang jalan bisa kau temukan akhwat-akhwat shalihah.
19 Juni 2011
Subscribe to:
Posts (Atom)
