Pages

Saturday, January 15, 2011

Berlari

Tiba-tiba aku bertanya pada diriku sendiri: mengapa aku harus berlari? Mega rupanya tak begitu tega meluapkan tangisnya saat itu, dan kunikmati angin yang menerjang. Sembari menegarkan nafasku yang tersengal-sengal, sembari memerciki hati dengan harapan.

Sungguh terkadang aku berpikir, tak ada gunanya aku berlari. Karena mentari akan tetap di sana dan waktu memang sering kali menjadi makhluk yang tak akan bisa kita samai langkahnya. Dan ternyata aku berlari, sebentar berhenti. Sebentar saja dan aku berlari.

Dan aku berhenti.
Kembali bertanya.
Dan aku tak harus berlari.
Dan waktu memang tak akan bisa kuiringi, di antara nafasku yang semakin pendek. Bersama mega yang tak lama lagi menangis dan hati yang kujaga dalam irama harapan.


19.39 pm
15 Januari 2011

Saturday, January 08, 2011

Hello Seattle


Hello Seattle, I am a mountaineer
In the hills and highlands
I fall asleep in hospital parking lots
And awake in your mouth

Hello Seattle, I am a manteray
Deep beneathe the blue waves
I'll crawl the sandy bottom of Puget Sound
And construct a summer home

Hello Seattle, I am the crescent moon
Shining down on your face
I will disguise myself as a sleeping pill
And descend inside of you

Hello Seattle, I am a cold seahorse
Feeling warm in your sand
I sing about the tide and the ocean surf
Rolling in the evening breeze

Hello Seattle, I am an albatross
On the docks and moored boats
I sail above your inlets and interstates
Through the rain and open wind

Hello Seattle, I am an old lighthouse
Throwing beams of bright lights
Red in the morning, blue in the evening sun
Taking heed for everyone

Hello Seattle, I am a mountaineer
In the hills and highlands
I fall asleep in hospital parking lots

Take me above your light
Carry me through the night
Hold me secure in flight
Sing me to sleep tonight

Take me above your light
Carry me through the night
Hold me secure in flight
Sing me to sleep tonight



singing by: Owl City
gara2 denger lagu ini jadi nada dering seseorang di warnet, saya jadi tulis liriknya. Well, it remind me about Sekar Indira Kuswoayuning

Friday, January 07, 2011

Pak Asrori

Hari sudah beranjak sore ketika itu. Saya baru saja keluar dari warnet, hendak menuju DT menunggu Nukeu, kawan KKN saya saat sosok itu memaksa saya untuk berpikir. Sosok itu muncul begitu saja dan ia memang memaksa kognisi saya bekerja lebih keras sampai akhirnya saya ingat sesuatu tentang beliau. Karena memang tidak terlalu mengenal beliau, maka sayapun tidak berusaha menyapa. Saya langkahkan kaki lebih jauh ketika Nukeu mengirimkan sepotong pesan ke ponsel saya yang membuat saya memutar arah. Dan saya berpapasan lagi dengan orang itu. Saat itu, saya hampir ingat beliau secara utuh.

hari memang telah sangat sore ketika saya (lagi-lagi) beranjak dari warnet hari itu. Tak menyangka, ternyata saya harus bertemu lagi dengannya, yang sepanjang sore itu seolah memang harus bertemu.
"Yang dari Cirebon ya?" tanyanya begitu melihat saya.
"Bukan Pak, saya dari Indramayu..." jawab saya.

Nyatanya, mungkin Pak Asrorijuga berusaha keras untuk mengingat saya, orang yang sepanjang sore itu beberapa kali ia jumpai.

Pak Asrori, orang yang secara tak sengaja hadir dalam sekelebat hidup saya. Beliau adalah salah satu peserta dalam salah satu seminar yang melibatkan saya sebagai panitia beberapa tahun lalu. Beliaulah yang menangkap pesan dari apa yang tidak saya tunjukkan. Beliau mengetahui sisi lain dari diri saya semenjak pertama kali bertemu. Beliau sosok bapak yang mengajarkan saya beberapa hal di hari pertama kami bertemu, yang juga menjadi hari terakhir diskusi panjang kami tentang hidup. Pak Asrori, sebenarnya bukan orang yang spesial atau berpengaruh dalam kehidupan saya, namun ialah orang yang memerciki saya akan suatu kesadaran, kesadaran akan diri saya, kesadaran akan kehidupan...


7 Januari 2010

Wednesday, January 05, 2011

Satu Alasan Rahasiaku


Aku baru menyadari satu hal. Iya, satu hal yang membuatku memaksakan diri naik bis damri, bis antarkota yang menghabiskan waktu lima jam untuk sampai di kotaku. Padahal aku tahu, ada bis yang tepat melintas di depan kampusku, dengan waktu tempuh kurang dari lima jam, dan tentu saja, lebih murah karena ia bis ekonomi. Aku baru menyadarinya sekarang, hanya untuk satu alasan aku kerap setia dengan damri. Kau tahu? Ya, kau boleh tertawa nanti atau menggeleng-gelengkan kepala mengetahui alasanku. Hanya untuk menikmati sekantung tahu sumedang, aku rela menuju Cicaheum demi damri padahal aku cukup kelelahan menuju ke sana, juga rela menelan bulat-bulat tablet antimo agar aku bisa pulas tidur dan melupakan sejenak rasa masuk angin yang kerap menghantui setiap kali aku naik damri ber-AC ini.
Iya, untuk sekedar menikmati tahu sumedang inilah...

Alasan sederhana, atau mungkin kekanak-kanakan namun aku menikmatinya. Aku tahu, bisa saja aku membeli sekantung tahu sumedang itu di mana saja dan dapat menikmatinya di mana saja. Namun aku menikmati alasan sederhana ini sebagai bumbu perjalananku setiap kali aku pulang ke Indramayu atau berangkat ke Bandung, dan bagiku itu bukan suatu masalah.


5 januari 2010
832 pm, setelah beberapa menit lalu turun dari bis, namun aku tak dapat menikmati sang tahu sumedang.