Pages

Tuesday, November 08, 2011

Sirkus Emosi

Maaf, judul tulisan ini memang terinspirasi oleh sebuah buku dengan judul yang sama, Sirkus Emosi, sebuah kumpulan cerpen karya alumnus Psikologi UI. Saya harap memang menggambarkan apa yang akan saya tulis. Rasanya sudah lama juga tidak menulis. Awalnya memang menghindar untuk menulis di facebook, blog ataupun jejaring sosial lain, namun pada akhirnya saya memang membiarkan diri saya untuk tidak menulis beberapa bulan ini, dalam artian tak satupun karya tangan saya lahir. Kalaupun ada, itu hanya sebatas update status pada akun jejaring sosial saya, atau sebuah pesan singkat yang saya kirim kepada rekan-rekan via nokia saya, atau lanjutan bab dua skripsi, atau laporan-laporan dan bahan mengajar. Sungguh, saya pikir memang suatu kenikmatan tersendiri ketika kita diciptakan dengan kaki yang berjumlah dua (baca: sepasang), dan tangan yang juga berjumlah dua. Saya berpikir, akan jauh lebih mudah bagi kita untuk mengkoordinasi perintah otak ke kedua kaki atau tangan, dibandingkan ke tiga atau empat kaki dan tangan. Secara, saya memang hanya mengalami memiliki dua kaki dan tangan! Namun sungguh, sepertinya memang Allah sengaja menciptakan keergonomisan tersendiri pada tubuh kita, agar kita nyaman dengan jumlah ataupun ukuran dan bentuk masing-masing bagian tubuh. Itu saya rasakan beberapa pekan ini, dengan aktivitas yang sebagian besar waktunya saya habiskan di sekolah. Lucu bagi diri saya sendiri ketika menyadari apa yang saya lakukan dari hari ke hari berikutnya. Pagi saya menggunakan "topeng" sebagai seorang guru sekolah dasar, siang mengganti topeng guru yang saya punya dengan topeng seorang pendamping di lembaga perempuan dan anak, dan terkadang di sore hari, saya harus menggunakan "topeng" sebagai volunteer di sebuah yayasan sosial. Saya berdiri di atas tiga kaki. Eh, bukan tiga! Banyak! Yuk kita hitung! Saya ini seorang anak, seorang adik yang sekaligus kakak bagi adik saya, mahasiswa, anggota masyarakat (ceileee), anak kosan, dan lain-lain. Tidak mungkin kan, saya pakai topeng “kakak” ketika berhadapan dengan ibu kos? Benar, terkadang rasanya ingin pergi ke suatu tempat terbuka. Sendiri saja dan benar-benar jauh dari alat komunikasi. Namun lantaran tak kunjung menemukan waktu yang tepat untuk melakukan upaya flight, maka mungkin saya melakukan katarsis ini saja. Hahaha, tak apa tak bisa kabur, membayangkan untuk menikmati udara segar nun di bebukitan sanapun sudah membuat saya relaks. Hmm, sekarang saya ingin tertawa (dan sedang tertawa) mengamati diri saya sendiri. Kalaulah boleh saya katakan (dan memang akan saya katakan), rasanya lucu. Di pagi hari saya harus bisa tampil fresh di depan murid-murid saya. Kau tahulah bagaimana lincahnya murid kelas satu sekolah dasar! Tak mungkin saya mengawali hari di hadapan mereka dengan memasang tampang bĂȘte lantaran emosi saya yang sedang kurang bagus. Dan terkadang, seberapapun saya ingin marah karena tingkah polah murid-murid saya, saya harus bisa mengemasnya dalam konteks pendidikan. Huff, ini agak sulit. Men-setting hati kita untuk senantiasa bersabar dan menasehati dengan jalan yang makruf memang agak sulit, apalagi untuk orang dengan kepribadian seperti saya! Bukan hanya di hadapan murid-murid saja saya harus tampil “prima”. Di hadapan para orang tua murid yang setia menunggui putra-putrinya belajar sampai pukul tiga sorepun saya harus tampil oke, alias profesional. Susahnya jadi public figure! Oke, mari dilanjutkan. Untungnya di bulan Ramadhan jam sekolah hanya sampai dzuhur, jadi saya bisa melakukan aktivitas lain, yang artinya saya harus menyiapkan topeng lain, dengan emosi yang tentu saja berbeda. Dan itu menuntut saya melakukannya sesegera mungkin. Entah jadi pendamping atau jadi volunteer, atau jadi mahasiswa tingkat akhir yang kebakaran jenggot menyelesaikan skripsi. Dan tetap, saya harus menyimpan dulu kondisi emosi saya sesungguhnya agar bisa tetap profesional, dan seringkali saya gagal. Rekan-rekan saya bisa dengan mudah menebak sedang dalam kondisi emosi apakah saya saat itu. Payah. Mungkin karena begitu sulitnya menyimpan “gejolak emosi” dalam hati saya, saya tidak Allah takdirkan jadi entertainment yang kerap muncul di televisi. Ah, hidup. Lucu. Nikmat. Dan selalu punya tantangan untuk dihadapi. Mungkin banyak juga yang mengalami hal seperti apa yang saya alami. Mungkin bagi saya hidup itu seperti sirkus. Di mana kita, para pemainnya, memiliki peran masing-masing, terkadang memerankan beberapa peran lantaran terbatasnya anggota sirkus. Tentu saja, setiap peran memiliki tuntutan karakter dan emosi yang berbeda, yang bisa membuat penonton sirkus menikmati pertunjukan. Setiap pemain sirkus yang memiliki peran berbeda itu harus sigap mengganti topeng emosinya, lalu emosi pemain sirkus itu sendiri bagaimana? Di-manage kalau orang organisasi bilang. Hm, sulit ya? Tapi nikmati saja karena kita manusia yang hidup dalam masyarakat! Saya juga sama kok, sama-sama sedang berusaha menjalani hidup sebaik mungkin. Mungkin hati kita saja yang perlu disiapkan dengan amunisi sebanyak mungkin, amunisi yang membuat hari-hari kita berjalan dengan tenang, meski banyak ujian yang menyulut amarah dan kawan-kawannya. Meski banyak topeng yang harus bergantian kita pakai (asal hati kita jangan dipakaikan topeng juga). Apa amunisinya? Yuk kita temukan sama-sama! Saat malam terbagi menjadi tiga, dan saya berada di penghujung. Ramadhan, 2011

Monday, November 07, 2011

I Fell in Love with You the Moment I First Saw You

Hm, entah kenapa tiba-tiba saya ingin menuliskan tentang seseorang, seseorang yang membantu kita dalam mewarnai jalan-jalan kehidupan yang kita lewati. Mungkin kejadian di hari itu meninggalkan bekas di hati saya. Hari itu seperti biasa, kantor agak sepi namun aktivitasnya tetap saja crowded. Pada jam istirahat yang bertepatan dengan waktu dzuhur, saya dimintai tolong untuk menjagai Nafiz, putra salah seorang ibu pengurus yang belum genap berusia satu tahun. Nafiz saya gendong mengitari mushola, sementara umminya tengah shalat. Sejak terlepas dari rangkulan umminya, Nafiz terus menangis. Saya tentunya agak kewalahan juga lantaran tak terbiasa ngemong anak sekecil Nafiz. Sesekali, saya biarkan Nafiz merangkak. Ia memang sedang belajar merangkak. Tak disangka, ia merangkak kencang menuju umminya, menarik mukena yang digunakan umminya. Melihat kejadian itu, saya menggendong Nafiz kembali, berharap bisa membuat Nafiz tertidur. Nafiz berhenti menangis, saya pikir ia tidur tapi tak lama kemudian terdengar lagi suara tangis Nafiz. Duh dek ganteng, jagoan kesayangan ummi… sing sabar ya… umminya lagi shalat dulu. Dek Nafiz sabar yaaa… begitu terus saya membisikkan Nafiz. Nafiz tetap menangis sampai umminya selesai shalat. Ia saya biarkan merangkak. Saya mengamati Nafiz dari jauh ketika ia mulai mendekati umminya, menyentuh umminya, dan duduk di pangkuan umminya. Ia tidak lagi menangis, malah tersenyum-senyum. Sepertinya ia gembira sekali. I fell in love with you the moment I first saw you. ******************************************* Mungkin, dulu kita pun seperti itu: tak berdaya dan sangat bergantung. Iya, mungkin dahulu, tanpa kita sadari, kita begitu lekat dengan ibu kita sampai-sampai kita akan menangis sejadi-jadinya kalau dijauhkan darinya. Iya, dulu kita memang seperti itu, merasa tenang apabila ada ibu di sisi kita, merasa aman ketika ia merangkul kita, menggendong kita. Tanpa kita sadari, kita telah mulai membangun makna cinta, kita telah ‘jatuh cinta’ pada sosok yang selalu ada untuk kita tersebut. Sosok yang selalu terjaga sepanjang malam ketika kita tidur dengan gelisah atau untuk sekedar mengganti popok kita yang basah. Ialah ibu, yang telah menanamkan cinta, bahkan sebelum ia sendiri dapat melihat sosok kita. Ibu. Seseorang yang pertama kali memilihkan pakaian terbaik untuk kita, yang ketika kita beranjak dewasa tak lagi kita pedulikan pilihan-pilihan yang ia tawarkan untuk kita. Ibu, seseorang yang berhati-hati memilih makanan yang sesuai dengan perkembangan kita, yang ketika kita dewasa, kita lebih menyukai makanan yang dibuat oleh orang lain, yang tentunya tanpa bumbu cinta yang hanya dimiliki oleh ibu kita. Ialah ibu, seseorang yang membantu kita melangkah dan membantu kita bangkit ketika kita jatuh. Namun ketika usia kita beranjak, kita menganggap ibu terlalu ikut campur dengan masalah pribadi kita. Ialah ibu, yang selalu mengantar kita sekolah dan mengusap air mata ketika kita menangis lantaran diganggu teman. Kini, kita merasa itu semua tak pernah terjadi, bahkan tak jarang kita ragu untuk sekedar menyisihkan waktu untuk mendengarkan cerita hidupnya yang seringkali tak mudah. Karena kita tak pernah mengingat, bahwa ialah orang pertama yang kita cintai sebelum teman-teman atau pasangan hidup kita hadir. Karena kita enggan untuk mengasah hati kita untuk membaca perasaannya terhadap kita. Ialah orang yang cintanya selalu kita khianati dengan sederet alasan kesibukan kita, dengan alasan ibu terlalu rewel dan tak pernah mengerti apa yang kita mau, dengan alasan yang seringkali kita buat-buat. Kawan, ada pertanyaan yang selalu mengangganggu saya sebenarnya. Mengapa kita lebih mudah marah kepada ibu kita, dibanding marah terhadap teman yang justru lebih sering mengecewakan kita? Mengapa kita sulit untuk memaafkan kesalahan ibu kita, padahal di bawah kakinyalah syurga yang dijanjikan Allah itu ada? Bukankah selayaknya kitalah yang harus lebih sering meminta maaf padanya atas keacuhan dan keangkuhan yang kita lakukan? Keacuhan lantaran kesibukan kita, keangkuhan lantaran kondisi kita sekarang sudah lebih baik dan lebih mandiri sehingga menganggap kita tak lagi membutuhkan sesosok ibu? *************************************** Saya baru menyadari hal itu ketika melihat Nafiz. Dulupun kita seperti Nafiz, tak berdaya dan sangat bergantug pada ibu. Dulupun kita seperti Nafiz, memiliki perasaan aman terhadap ibu yang mungkin bisa diartikan sebagai perasaan cinta. Mom, I fell in love with you the moment I first saw you. Atau bahkan mungkin, perasaan cinta itu sudah tumbuh, bahkan ketika kita masih di dalam rahimnya karena kehangatan dan keamanan yang hanya dimiliki oleh sosok bernama ibu. Seperti kalimat yang saya kutip dari savage Garden berikut ini, I knew I love you before I met you. 10 Dzulhijjah 1432 H.

Wednesday, November 02, 2011

Bandage!

Hahahaha... Rasanya masih ingin tertawa kalau ingat kejadian hari ini. Karena perihal apakah gerangan? Hft. Begini, malam itu saya baru sadar kalau tangan saya masih sakit, rasa sakit yanng sebenarnya sudah saya rasakan sejak hari Kamis atau Jumat. Namun lantaran perhatian saya teralihkan oleh hal lain, maka saya tidak begitu menghiraukan rasa sakit yang sebenarnya mengganggu aktivitas tersebut. Sampailah malam itu, selepas isya, saya merasakan pergelangan tangan saya senut-senut sakit. Yap, akhirnya saya minta izin keluar sebentar untuk membeli obat gosok atau apalah. Malam itu, sayapun tidur nyenyak dengan tempelan koyo di pergelangan tangan. ********************************************* TRING. Saya bangun dengan rasa nyeri masih terasa. Allahumma, ternyata koyo saja tak cukup untuk mengembalikan pergelangan tangan saya seperti semula! Saya ambilah itu obat gosok, membuka tutupnya yang ternyata aduhai sulit kalau menggunakan tangan kanan saya yang sedang ngambek itu, jadilah si tagan kiri yang saya korbankan untuk membukanya. H, bukankah sesama saudara memang harus saling membantu? Begitu pulalah si tangan kiri membantu saudarannya si tangan kanan. Seorang rekan menanyakan kondisi tangan kanan saya, saya bilang masih sakit. Lalu dia merekomendasikan untuk memeriksakan tangan saya ke dokter ortopedi di RSHS. Saya pikir agak berlebihan juga kalau harus ke dokter, tapi rekan saya itu meyakinkan saya untuk memastikan, sebenarnya rasa sakit itu asal-usulnya dari mana, otot atau tulangkah, jadi saya bisa cari alternatif pengobatannya. Hah. Saya menuruti saran tersebut. uncluk-uncluk saya pergi seorang diri ke rumah sakit. Kepala saya langsung pening ketika sampai di poli ortopedi. Mungkin memang sudah bawaan saya, setiap kali ke rumah sakit selalu pening, tapi mudah-mudahan tidak akan pingsan lagi. :) Ketika nama saya dipanggil, saya agak-agak deg-degan juga. Gila aja! Di depan saya duduk seorang dokter yang masih muda! Hush hush, bukan ketang saya deg-degan lantaran di situ duduk segerombolan mahasiswa kedokteran yang sedang co-ass. Huaaah, saya jadi bahan observasi mereka! Duh, malu-maluin aja ah! Dokter rupanya tidak memvonis apa-apa terhadap keluhan saya, baru sebatas kemungkinan... tapi resep obatnya aduhai banyaknya! Perasaan saya makin geli ketika dokter menyuruh saya masuk ke ruangan lain, katanya akan di-ban ini tangan. Giling (meminjam istilah seorang kawan untuk mengekspresikan sesuatu yang luar biasa)! Sakit gini doang pake di-ban segala! Lebay ah! Hehehe "Di-ban itu supaya tangan kamu istirahat dulu, gak banyak gerak." Ujar si dokter muda. Oho, baiklah-baiklah. Sepulang dari dokter, saya masih ketawa-ketiwi sendiri mengamati diri saya. Lebay ah, pakai bandage segala kayak sakit apaan aja! Ini lagi resep obat yang banyaknya bukan main... Hahahaha... Hoy, kawan-kawan tengokin dong! Becanda ding. Udah ah capek ketawa mulu. Saya cuma mau bilang, kalau tangan kamu kerasa sakit, ke rumah sakit aja biar dapet bandage juga kayak saya! Kan keren tu, pakai bandage! Trend 2011 lah yaaa... 2 November 2011

Thursday, October 06, 2011

Catatan Malam: Bapak Guru

Mungkin terkesan cengeng sekali, tapi saya (memang) jadi ingat Bapak. Kabar mengenai salah seorang guru SMA saya yang jatuh sakit memang sudah lama saya dengar, maka ketika beberapa pekan lalu saya pulang ke Indramayu, saya sempatkan untuk menengok beliau di kediamannya, kediaman yang ia tinggali seorang diri. Betul lah kiranya, guru saya yang satu ini berjuang sendiri melawan sakit yang tak diketahui dari mana mulanya, sementara keluarganya tinggal di Bandung. Saya jadi terenyuh sendiri ketika melihat para tetangga Bapak Guru datang silih berganti sekedar mengantarkan makanan, ataupun menanyakan kabar beliau hari itu. Lantas melalui facebook, saya mengetahui perkembangan kesehatan Bapak Guru, nyatanya tak semakin membaik. Setelah saya menengoknya hari itu, hanya jeda satu hari saja, Bapak Guru dilarikan ke sebuah rumah sakit di Kota Cirebon, dirawat di sana selama hampir sepekan. Dan baru-baru ini, Bapak Guru dibawa ke RSHS, katanya untuk menjalani operasi. Siswanya, hampir dari setiap angkatan, mengumpulkan uang untuk membantu biaya pengobatan Bapak Guru. Dan hampir tiap hari, ada saja siswa yang menengok beliau. Mungkin itulah, mengapa seorang guru menjadi sebuah profesi yang sangat istimewa bagi saya. Kemarin sore, tiba-tiba saja saya ingin sekali menengok beliau. Rasanya tega sekali kalau saya yang tinggal tak jauh dari RSHS sama sekali tak menyempatkan diri untuk bersua, atau sekedar 'menularkan' senyum ke Bapak Guru ini. Maka saya menghubungi beberapa kawan untuk bersama-sama ke RSHS, walaupun hanya satu orang yang akhirnya menanggapi karea kawan-kawan yang lain berencana menengok hari Ahad nanti. Jadi, pukul tujuh malam itu, saya meluncur menuju RSHS. Bapak Guru yang saya lihat lebih kurus dibanding ketika saya menengok di rumahnya beberapa pekan lalu. Selang-selang terhubung ke hidung dan lengannya. Duh, saya tak tega melihatnya. Di samping Bapak Guru, duduk wali kelas saya ketika SMA, sedang tilawah. Beliau menghentikan tilawahnya melihat saya dan kawan saya datang. Kami menyalami Bapak Guru, yang jemarinya tak lepas dari tasbih. Kami tersenyum. Setelah mengobrol ke sana-kemari, kami kehabisan bahan pembicaraan. Saya duduk di sofa, melihat ke arah Bapak Guru, dan tiba-tiba saya ingin tilawah. Ibu wali kelas saya menyediakan kursi di samping ranjang Bapak Guru, mempersilakan saya duduk di sana dan sayapun duduk bertilawah. Bapak Guru memejamkan matanya. Membaca Yasin macam ini mengingatkan saya ketika menunggui Bapak saat dulu dirawat di rumah sakit, maka saya menangis. Saya menyelesaikan tilawah saya, Bapak Guru membuka matanya kembali. "Bapak istirahat aja ya, tidur..." ujar saya pelan. Bapak Guru menggeleng. "Tadi Intan baca apa?" tanyanya. "Baca Yasin, Pak. Maaf, bacaannya jelek ya?" Bapak Guru menggeleng lagi. "Nggak. Bagus kok..." deg, saya jadi semakin ingin menangis, teringat Bapak yang belum pernah mengatakan hal itu ketika saya tilawah. "Bapak mau dibacain surat yang lain?" "Cukup..." "Nanti di rumah, Intan tilawah lagi buat Bapak ya?" Pak Guru mengangguk. Keluarga Bapak Guru, wali kelas dan kawan saya kini berkumpul di sekitar ranjang Bapak Guru. Melihat Bapak Guru yang belum tidur juga, mereka menyuruhnya tidur. Di luar dugaan, Bapak Guru mengatakan "Tadi udah tidur, pas Intan ngaji..." Wahai Allah, Engkaulah yang menerbitkan matahari di timur dan menenggelamkannya di barat, Engkaulah yang menopang gunung-gunung sehingga ia kokoh dalam kuasaMu. Engkaulah yang menenangkan gemuruh badai, Engkaulah yang menjaga setiap makhluk dalam lingkup kuasaMu... Wahai Allah, lapangkanlah hati Bapak Guru untuk selalu bersyukur dan bersabar dalam tiap takdir yang Engkau gariskan padanya... Saya menangis lagi, menangis lantaran melihat Bapak Guru yang membawa ingatan saya pada Bapak. Menangis lantaran belum memenuhi amanat Bapak untuk memperbaiki tilawah saya yang tak baik itu. Menangis lantaran ada yang tertidur ketika saya bertilawah... 5 Oktober 2011

Saturday, September 17, 2011

Pekerja Sosial?

Jangan, jangan menyalahkan karena mungkin kitapun tak bisa berjiwa ksatria atau berhati mulia. Sepertinya beberapa hari ini Allah benar-benar ingin saya belajar. Iya, belajar. Saya menegarkan hati untuk mengerjakan skripsi saya di Indramayu. Sudah saya plotkan hari Ahad sampai Selasa akan saya lalui di Indramayu, selama satu bulan mungkin. Karena rencana inilah, saya menyeleksi beberapa amanah agar dapat fokus mengambil data. Saya bergabung dengan tim konseling di RS. Bhayangkara, salah satu rumah sakit di Indramayu yang menjadi rujukan bagi VCT atau konseling khusus HIV/AIDS. Jarak dari rumah menuju rumah sakit tak kurang dari puluhan kilometer, dengan waktu tempuh empatpuluh lima menit tanpa hambatan. Ya, pada akhirnya saya benar-benar menikmati jalur pantura. Saya, yang memiliki kenangan tersendiri dengan rumah sakit harus benar-benar siap secara lahiriah. betapa tidak, rumah sakit memiliki aroma yang khas yang kadang memaksa saya untuk menahan napas beberapa saat. Kawan, ternyata di sinilah Allah ingin saya belajar. Saya memang orang Indramayu asli, namun saya tidak mengenal Indramayu. Dan karena hal itu, saya tersindir berat ketika ibu konselor yang menemani hari-hari saya di sana bercerita banyak tentang kondisi Indramayu, tentang kasus-kasus HIV/AIDS yang terjadi di Indramayu. Oh Tuhan, saya sendiri tak habis pikir, ternyata banyak juga kasus yang terjadi! "Walaupun di sini banyak tenaga kesehatan yang dilatih VCT, tetap saja setiap ada kasus baru akan dirujuk ke sini. Sementara di sini, konselor VCT ya hanya saya. Padahal di beberapa puskesmas sudah ada tenaga konselor VCT." ujar ibu konselor. Saya hanya manggut-manggut. Menurut A Ipang, aktivis MCR Indramayu ketika saya SMA dulu, konselor VCT di Indramayu baru satu orang, ya si ibu ini. Ternyata banyak. " Saya kadang bingung, saya yang bukan orang asli Indramayu saja mau menjalani ini semua. Sementara putra daerahnya mana?" deg, saya tersindir. *** Saya jadi memikirkan untuk beraktivitas di Indramayu saja. Mungkin. *** Beberapa waktu lalu, begitu saya menginjakkan kaki lagi di Bandung, seorang rekan mengajak saya ke Dinas Sosial di Cimahi sana. Katanya untuk menemani. Nyatanya, sesampai di sana kami berdua dipisahkan dan masuk ke ruangan yang berbeda untuk mengikuti kegiatan yang berbeda. Saya melongo. Apa-apaan ini? Begitupun kawan saya. Kami sama sekali tidak tahu, ada agenda apa di Dinsos. Maka, dengan ketidaktahuan kami, kami ikuti saja lur kegiatan yang ada. Kami ditanya macam-macam, karena status kami sebagai pekerja sosial di P2TP2A. Lha, saya bukan peksos (pekerja sosial, red) kok saya hanya relawan, tapi rasanya memang tidak berbeda tugasnya... Tapi saya jalani saja dan banyak hal yang saya dapat dari diskusi bersama rekan-rekan peksos dari berbagai lembaga yang hadir saat itu. Seorang peksos yang sebenarnya tidak mengambil pekerjaan lain di luar pekerjaannya sebagai peksos, tidak mendua. Otak saya mencerna kata-kata tersebut, bagi saya sungguh luar biasa kalau memang ada orang macam itu. Bisa kau bayangkan, berapa imbalan yang didapat dari seorang peksos? Sementara pekerjaannya mungkin segudang, pekerjaan yang dilakukan untuk kepentingan orang lain yang membutuhkan. *** Sore itu, hari kesekian setelah saya kembali ke Bandung, banyak hal yang memenuhi pikiran saya. Hal itu seperti skripsi dan segala atributnya, yayasan, P2TP2A, dan rumah. Akhirnya selepas shalat Maghrib, saya berbincang dengan seorang kawan di shelter. Obrolan tentang kondisi skripsi saya pada awalnya, dan merembet ke hal-hal lain berkaitan dengan pekerjaan. Kami berdua adalah relawan, baik di P2TP2A maupun di yayasan. Dulu sayapun menjadi relawan di 25 Messengers, juga sempat secara tidak langsung dianggap relawan MCR Jawa Barat. Apa yang istimewa dari seorang relawan? Hm, saya hanya senang menjalaninya, itu saja. Kebetulan kawan saya itu juga baru saja diterima sebagai relawan untuk Pertemuan Nasional HIV/AIDS dan sempat menjadi relawan yang berangkat ke Merapi beberapa waktu lalu. Maka obrolan kami mengarah-arah ke situ. Kawan saya ini mengklaim dirinya tidak begitu memiliki jiwa sosial, semua dijalani lantaran ingin saja. Ia bercerita bahwa di luar sana, di tempat yang tidak kita tahu, ada orang-orang yang benar-benar mendedikasikan diri untuk kehidupan sosial. Ada bidan yang berhasil membangun sebuah desa terpencil, yang pada awalnya tidak mendapat penerimaan baik dari masyarakat. Ada seorang pilot yang langsung tergerak hatinya untuk menolong korban bencana, dan, sama seperti bidan yang tadi saya sebutkan, juga mengalami penolakan dari masyarakat, baru beberapa bulan kemudian masyarakat mau menerima santunannya. Dan banyak lagi orang yang melakukan hal-hal luar biasa yang sama sekali tidak di kenal di luar sana. Sementara kami? *** Saya sudah beranjak tidur, seperti biasa, dengan earphone terselip di telinga saya, ketika tiba-tiba handphone saya berbunyi. Duh, sudah jam sebelas malam! Siapa orang yang tiba-tiba menelepon, seperti tidak ada waktu lagi saja! Ternyata atasan saya. Ia bilang kalau malam ini akan datang korban trafiking. Hm, saya hanya menahan-nahan perasaan saya. Kesal sesungguhnya, apa tidak bisa besok saja? Ini sudah larut malam! Saya hanya sempat tidur satu jam, ketika lagi-lagi ada telepon masuk. Pak satpam yang menelepon, katanya orang dari Polda sudah datang mengantarkan korban. Saya melirik jam, gila! Sudah jam satu dini hari! Dengan tersungut-sungut, saya menemui mereka di kantor. Seorang gadis seumuran adik saya sedang duduk di teras kantor bersama bapak dan ibu dari Polda. Saat itu, rasa kantuk sudah mulai saya singkirkan, dan rasa kesal saya harap cepat-cepat terhapus. *** Saya membayangkan seorang dokter atau bidan yang bisa mendapat pasien di waktu-waktu tak terduga. Mungkin ada yang langsung melakukan pelayanan terhadap pasien tersebut dan menahan-nahan egonya sendiri untuk bersitirahat. Mungkin ada juga yang seperti saya, melakukan dengan setengah hati. Dan mungkin pula ada yang langsung menolak, dan berkata "Besok saja datang ke sini lagi" Menjadi seseorang yang mengikhtiarkan diri untuk membantu sesama memang tidak mudah, dan tidak akan mudah, dan hanya orang-orang tertentu saja yang mungkin dapat melakukannya sepenuh hati. #sebuah renungan bagi diri sendiri

Wednesday, July 27, 2011

A Cup of Memories

Ada seorang kawan yang menandai saya dalam catatannya, catatan tentang ayah. Saya jadi memikirkan Bapak. Tanggal 25 Juli lalu tepat dua bulan Bapak pergi, dan pastinya, kenangan-kenangan Bapak masih dapat saya ingat. Dan, karena tanggal 26 adalah hari lahir Bapak, maka mungkin adalah saat yang tepat bagi saya untuk menulis (setidaknya), hal-hal yang menghiasi perjalanan saya bersama Bapak selama lebih dari 22 tahun.

Kawan saya mengatakan,
"Bapak tak pernah pilih kasih. Namun dia punya pilihan tentang siapa anak yang paling dia percayai. Itulah anak yang paling dekat dengannya."

Itu juga yang terjadi pada saya. Saya khawatir akan benar-benar ditinggal jauh oleh Bapak kurang lebih sejak dua tahun lalu. Waktu itu kondisi kesehatan Bapak sudah menurun. Bapak yang biasanya menjemput saya ketika saya pulang ke Indramayu, waktu itu tidak lagi menjemput saya. Di kepulangan terakhir sebelum Bapak sakit, Bapak menjemput saya, seperti biasa naik becak langganannya. Bapak menceritakan banyak hal ketika berada di becak, salah satunya Bapak menceritakan bahwa sebelum menjemput saya tadi, beliau ke laboratorium, mengecek kesehatan. Katanya, besokpun hasilnya sudah ada. Bapak menceritakan dengan cerianya.
Saya tidak tahu kapan tepatnya saya menyukai diskusi-diskusi panjang bersama Bapak, atau pergi menghabiskan waktu berdua bersama Bapak. Yang pasti, dulu Bapak adalah orang yang saya takuti. Takut, bukan segan. Saya tidak menyadari kedekatan kami. Semenjak Bapak memutuskan mengambil pensiun dini, Bapak memang lebih banyak bersama kami, mengajak kami anak-anaknya untuk berjalan-jalan. Dan biasanya memang saya yang ikut serta. Saya baru menyadari kedekatan ini ketika suatu hari Mamah bercerita tentang seorang tetangga yang mengatakan bahwa Intan itu sayang banget ya sama Pak Iwo. Selalu ngegandeng tangannya kalau jalan bareng. Ternyata ada ya, yang memperhatikan kami!
Pada akhirnya memang, sayalah yang menemani Bapak mengambil hasil laboratorium. Takut dan ingin menangis, itu yang saya rasakan. Dan sehari setelah itu memang kondisi Bapak memburuk, sampai-sampai saya harus mengantarnya ke Trisi, tempat Bapak membuka usaha. Entah kenapa, bukan kakak saya yang lain, padahal waktu itu hampir semua anak Bapak berkumpul.


"Bapak biasanya punya satu anak yang khusus sika dia suruh-suruh. Bukan karena dia mau menyusahkan, tapi karena itulah anak yang dia percayai."

Saya pikir itu juga terjadi pada saya. Sebagai anak yang tidak ditakdirkan menjadi anak bungsu, saya menempati posisi strategis untuk disuruh-suruh oleh orang di rumah. Dulu saya berpikir saya bisa menyerahkan 'jabatan' itu ke Sekar, adik saya. Nyatanya, ketika Sekar ngambek tidak mau disuruh, Bapak atau Mamah melerai dan kembali mendaulat saya sebagai anak yang suka disuruh-suruh.
Di masa-masa SMA, ketika kendaraan di rumah kami hanya sepeda, saya diminta Bapak untuk menjadi kepanjangan tangan Bapak dalam menjalankan usahanya. Itu juga karena sayalah yang paling besar di rumah karena ketiga kakak saya sudah tinggal di kota lain. Setiap hari selepas maghrib (saya pulang sekolah jam 5 atau setengah enam saat itu), saya mengayuh sepeda beberapa kilometer untuk membantu Bapak, tentu dengan pembayaran layaknya 'profesional'. Lumayan untuk menambah uang saku untuk keesokan harinya. Dulu sempat terpikir, saya akan melanjutkan usaha tersebut dan berharap Bapak akan mewariskannya pada saya. :)

"Bapak akan dengan senang hati menceritakan tentang anak-anaknya pada teman-teman dekatnya. Itulah kenapa teman-teman dekat bapak tahu banyak tentang anaknya."

Ini hal yang paling sering Bapak lakukan. Di ruang tamu pada rumah kami yang dulu, Bapak sengaja memasang foto kami anak-anaknnya. Jadi setiap kali pelanggan Bapak datang, Bapak bisa menceritakan kami berlima.
Di kelas tiga SMA, Bapak dengan riangnya pergi menuju bank tempat dulu Bapak bekerja. Alasan utamanya adalah untuk membayarkan uang pendaftaran kuliah saya, namun untuk alasan kedua lah Bapak mengusulkan diri untuk menggantikan Mamah mengurusi urusan sekolah anaknya. Bapak ingin teman-temannya tahu kalau saya, anak keempat Bapak, juga akan kuliah.


"Caranya yang khas untuk membuat anak-anak mengenalnya adalah mengajak mereka ke tempat-tempat kesukaannya. Warung makan, pasar loak, dll."

Saya tidak ingat pasti apa tempat kesukaan Bapak, namun yang jelas, Bapak sering mengajak saya ke pelosok-pelosok Indramayu sewaktu Bapak masih menjadi pegawai bank. Bapak suka mampir ke pasar ikan yang aromanya sungguh tidak saya suka, ke laut, Pasar Mambo, ke kantornya. Itu mungkin karena Bapak ingin saya tahu aktivitas Bapak. Dan saya menikmatinya, meskipun dulu, seringkali saya tertidur di perjalanan pulang kami ke rumah.

"Di tempat itu, dia akan memilihkan makanan untukmu. Itulah makanan kesukaannya. Bapak tahu kelak anak-anak akan menyukai apa yang menjadi kesukaannya."

 Sepulang bekerja, Bapak biasanya membawakan makanan yang cukup aneh bagi kami. Bapak mengenalkan kami pada ubi cilembu yang dibelinya di tukang sayur dekat kantor Bapak. Bapak mengajak ke pasar ikan bukan karena Bapak menyukai ikan, tapi Bapak ingin kami anak-anaknya mengonsumsi ikan untuk memenuhi gizi kami. Tapi saya sama seperti Bapak, jadi saya ngadat tidak makan ikan. Di Pasar Mambo, Bapak suka membelikan kocar-kacir, makanan tradisonal yang disiram dengan cairan gula merah, kelapa parut, dan kacang hijau sangrai yang ditumbuk kasar di atas kue ketan. Makanan itu saya sukai, juga rumbah yang sering Bapak beli dari pinggir jalan DI Panjaitan.
Saat Bapak masih sehat, selepas subuh ia berjalan kaki  menuju Kampung Arab atau waduk, tempat biasanya pedagang-pedagang kue menjajakan dagangannya. Kami sering diajak (namun seringkali kami masih tertidur). Di sana, Bapak memilihkan berbagai kue, terkadang aneh bagi kami namun kami selalu menyukainya. bapak tampaknya seorang yang pandai memilihkan makanan untuk kami. Itu salah satu cara Bapak membangunkan kami dengan menyediakan sarapan yang luar biasa.

"Dia tak akan sungkan bolos ngantor demi menemani anak-anaknya."

Sewaktu masih jadi pegawai bank, yang saya tahu Bapak tak pernah membolos. Namun ia meluangkan waktu di akhir pekan untuk mengajak kami berjalan-jalan ke kota. Ia juga memutuskan mengambil pensiun dini ketika saya masih kelas dua sekolah menengah pertama, agar lebih bebas. Begitu alasannya. 

"Dia diam-diam sedih saat tahu bahwa dirinya tak mampu berbuat apa-apa lagi untuk anak-anaknya."

Saya menyadari hal ini setelah bulan syawal satu setengah tahu lalu ketika Bapak terkena stroke. Ia secara otomatis 'pensiun' dari aktivitasnya. bapak tidak lagi menjadi 'ujung tombak' kami. Bapak selalu menangis ketika kami, anak-anaknya, menceritakan sesuatu kepadanya. Dan ia, seperti yang dikatakan Mamah, mengatakan bahwa, Intan mah ga akan kebagian. Bapak melalui hari-hari yang sulit di rumah sakit. Saat itu, kakak ketiga saya hendak wisuda. Kami selalu membisikkan Bapak agar kuat dan bisa lekas sehat agar bisa menghadiri wisuda. Saya tahu Bapak berusaha keras, meskipun pada akhirnya, Bapak hanya menunggu prosesi wisuda tanpa pernah melihat kakak saya benar-benar diwisuda. Mungkin Bapak merasa sedih saat itu. Dan setelah wisuda kakak saya, lewat kata-katanya di atas tadi, Bapak seolah-olah telah yakin bahwa saya tak akan disaksikan Bapak saat wisuda nanti, pun sekedar menunggui sampai prosesi wisuda saya selesai.


"Dia menjadi orang pertama mengajari anak-anak untuk tegar menjalani hidup."

Boleh dikatakan bahwa keluarga kami bukanlah keluarga serba ada. Bapak berjuang demikian besar untuk membela kami, agar anak-anaknya ini dapat tercukupi kebutuhannya. Bapak tak pernah mengajari kami hidup mewah. Yang ia tahu, setiap hal membutuhkan proses. Maka ia membiarkan saya menjadi pedagang. Maka ia tak pernah melarang saya mengikuti beragam aktivitas. Ia tak pernah mengurusi masalah saya di sekolah karena ia ingin saya dapat menghadapinya sendiri. Bapak memberikan opsi bagi saya untuk masuk ke kelas biasa, namun karena keegoisan saya, pada akhirnya saya masuk kelas unggulan. Namun Bapak tidak marah atau melarang, ia membiarkan saya masuk ke lingkungan yang sebenarnya menjadi jalan terberat sepanjang masa SMA.


"Dia bahagia saat anak-anaknya bisa membuat keputusan sendiri. Tapi dia juga sedih karena itu berarti sudah waktunya untuk lepas. Dia mengajari anak-anak untuk mengambil keputusan. Padahal dia tahu bahwa itulah yang akan membuat mereka meninggalkannya. "

Bapak tidak memilihkan jurusan apa yang harus saya tempuh, pun memilihkan ke universitas mana saya sebaiknya masuk. Ia hanya menganngguk ketika saya bilang saya akan mengikuti PMDK UPI, jurusan Psikologi.
Ketika Bapak mendengar putrinya hendak diajak menikah, yang terbersit olehnya adalah baik tidakkah laki-laki iniApakah ia memiliki tato? Dan ia tidak memaksa putrinya untuk mengikuti apa yang sebenarnya Bapak kehendaki. Ia membiarkan putrinya mengambil keputusan sendiri. Karena ia tahu, putrinya telah dewasa untuk memutuskan kehidupannya sendiri.


"Saat bapak sadar bahwa sakitnya tak akan kunjung sembuh, dia pun membuat harapan terakhir."

Dulu, suatu hari di masa-masa sekolah menengah, saya membaca Al-Qur'an di ruang tamu. Bapak turut duduk di sana, yang ternyata mendengarkan apa yang saya baca. Dengan sebuah komentar sederhana, Bapak mengatakan ngaji saya tidak bagus. Itu harapan yang secara tidak langsung Bapak tanamkan pada diri saya untuk mempelajari Al-Qur'an, untuk dapat membacanya secara tartil. Bukan karena Bapak jagoan dalam membaca Al-Qur'an, justru karena Bapak ingin saya lebih baik dari dirinya.
Bapak sangat ingin melihat salah satu putrinya menikah. Saat kakak saya mengatakan ia akan menikah, Bapak langsung meminta kalender dan mencoret-coretnya. Coretan itu masih ada di balik kertas kalender . Coretan tentang tanggal untuk kakak saya menikah. Bapak memberi kenangan berupa tanggal bagi kakak saya. Setidaknya, meskipun Bapak tidak melihat pernikahan kakak, Bapak tahu kalau kakak akan segera menikah, di tanggal yang telah Bapak siapkan.
Setelah Bapak pergi, Mamah mengatakan bahwa Bapak pernah mengutarakan keinginannya untuk dapat membaca surat Al-Mulk, namun sampai penghujung, Bapak belum sempat mempelajarinya. 



Bapak, rasanya tidak mungkin memenuhi cangkir ini dengan kisahmu. Namun, engkau tentunya akan menikmati secangkir teh dibanding segelas kopi yang saya hidangkan. Maka saya tahu, secangkir kisah ini mungkin akan lebih kau sukai.
Tanjobi omedetto, otoosan. 
untuk Bapak yang namanya tertera pada nama saya. 
  

Sunday, June 19, 2011

Perasaan Ini

Kembali lagi ke Gegerkalong. Sebenarnya biasa saja, toh saya sudah sering mondar-mandir di sana empat tahun ini, namun akhir-akhir ini tentunya berbeda. Saya memang sudah jarang berkeliaran di sana, tidak seperti dulu. Maka saya ingin menikmatinya, dari mulai mengamati ada jajanan baru apa yang bisa saya cicipi. Ah, jadi ingat… dulu saya pernah membuat satu note yang isinya tentang daftar jajanan di Gegerkalong!

Hm, saya masih punya waktu satu setengah jam sebelum nanti harus menghadiri suatu acara. Namun saya bingung harus kemana, sementara kunci kamar kosan saya tinggal di shelter. Maka jadilah saya terus berjalan, tanpa tujuan yang jelas. Hanya menikmati Gegerkalong sampai nanti adzan Ashar tiba. Nyatanya, seseorang menyapa saya. Itu dua orang kawan saya, sedang menunggu jus yang mereka pesan.

“Mau kemana, Ntan?” tanya kawan saya. Saya malah bingung ditanya macam itu, lha saya memang sedang tidak bertujuan saat itu.
“Ee… enggak tau ni Va, bingung!” ujar saya, sambil nyengir tentunya.
“Udah makan belum? Ke kosan saya yuk! Intan ga usah beli nasi, tinggal lauknya aja. Ya?” ditawari seperti itu saya bergirang hati, alhamdulillaah rezeki. Akhirnya saya membeli lauk makan dan ikut mereka menuju kosan kawan saya.

Hm, sudah lama tidak beraktivitas di sekitaran kampus dan Gegerkalong membuat saya sedikit loading ketika mereka ngobrol. Secara, walaupun saya dan salah satu dari kawan saya ini sama-sama dari Indramayu, namun aktivitas kami berbeda. Dia beraktivitas di LDK sama dengan kawan saya yang satunya, sementara saya asyik dengan dunia saya yang abu-abu. Ya sudahlah, saya ikut saja obrolan dua sahabat ini. Sedikit-sedikit saya paham kok. Hehe…

Tak terasa, waktu Ashar sudah tiba. Kami bertiga shalat tanpa perlu meributkan siapa yang akan jadi imam. Duh, kok tiba-tiba saya jadi merasakan sesuatu ya? Sst, kok shalatnya malah dihantui perasaan macam-macam sih? Astaghfirullaah…

Setelah shalat, saya dan kawan saya pamit. Saya memang harus bergegas, tak ingin telat lagi seperti pekan kemarin. Di jalan, kami bersua sekelompok akhwat jilbaber, salah satunya ada adik tingkat saya. Seperti biasa, kami saling mengucap salam dan bersalaman. Duh, perasaan itu kok datang lagi ya? perasaan itu terus mengganggu saya sampai sore telah lewat. Ah, rasanya ingin sekali mengatakan sesuatu. Mengatakan tentang apa yang saya rasakan.

Bisakah saya menjadi seperti mereka? Bukan sebenar-benarnya menyerupai mereka, namun bisakah saya menjadi ‘akhwat’ seperti mereka? Yang setiap perilakunya akan membuat orang mengingat Allah, yang malam-malamnya dihiasi indahnya bertaqorub bersama Allah, yang lisannya senantiasa terjaga dari sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat, yang keterjagaannya diberkahi, yang semangatnya untuk menyeru Islam tak putus oleh terpaan-terpaan angin, yang persaudaraannya diikat oleh kasih sayang Allah. Duh, rasanya masih jauh sekali diri ini…



gegerkalong, sepanjang jalan bisa kau temukan akhwat-akhwat shalihah.
19 Juni 2011

Saturday, May 07, 2011

Berceloteh Tentang Hidup (Bagian I)

7 Mei 2011
ah, sedikit ingin bercerita

Sekolah Dasar.
Ah, memang masa-masa itu sduah jauh terlewat. Bagian-bagian ingatan sayapun sepertinya sudah terhapus, seperti bangunan sekolah dasar saya yang juga sudah rata dengan tanah. Iya, beberapa tahun selepas saya menamatkan pendidikan saya di SDN Kepandean II, SD itupun turut "menghilang", termerger dengan sekolah dasar lain lantaran siswanya semakin tahun semakin sedikit, lantaran beberapa tahun terakhir bangunannya selalu (hampir) terendam banjir dari sisa air pembuangan perusahaan air minum.

Saya sepertinya masih sanggup menggambarkan bagaimana indahnya sekolah saya itu. Halamannya sangat luas kalau harus dibandingkan dengan sekolah lain. Luas sekali sampai kami (para siswanya) hanya sanggup berlari mengitarinya satu kali saking luasnya. Di halamannya itu tumbuh dua pohon baujan yang secara ilmiah disebut Samanea saman, besar-besar sekali sampai akar-akarnya menonjol keluar dari tanah. Ada pula pohon randu yang juga besar, pohon yang selalu menghibur saya dan teman-teman karena kapuk-kapuknya yang halus terbang terbawa angin. Kami menganggapnya seperti salju. Ada juga pohon kelapa yang besarnya tak pernah berubah dengan buah yang kuning pucat, beberapa pohon mangga yang bisa kami naiki, jajaran pohon pisang yang rapi berbaris di antara parit-parit kecil tempat kami menengok ikan-ikan, dan rumpun kembang sepatu sebagai pagar sekolah kami. Juga ada jembatan di depan sekolah tempat kami duduk-duduk menjulurkan kaki bermain dengan air kali.

Sekolah saya cukup tinggi, dengan ruang kelas yang besar dan gelap. Loncengnya masih berupa lonceng dari besi, besar dan berkarat. Di belakang sekolah terhampar sawah, lengkap dengan saluran irigasinya yang sering saya lompati bersama teman-teman, hampir setiap sore. Ah, alangkah indahnya masa itu!

Dan di sekolah inilah, di masa inilah saya mendapat pelajaran berharga. Kawan, dulu saya memang langganan menjadi nomor satu di kelas. Prestasi saya lumayan lah, sampai suatu hari di kelas tiga SD, menjelang hari-hari pembagian rapor.

Kawan perempuan saya bilang kalau menurut guru agama, dia akan mendapat peringkat yang bagus, peringkat satu. Di pikiran kanak-kanak saya dulu, saya mengatakan begini,
"Ah, silakan saja kamu bilang begitu toh kita ga tau siapa yang akan jadi ranking satu." yang jelas, saya biasa saja menyikapinya. Ternyata, saat raport dibagikan, lagi-lagi saya yang menempati posisi itu. Ya sudah, saya tak banyak ambil pusing karena begitulah kenyataannya.

Rupanya, sikap kawan saya ini berubah. Ia mulai menjauhi saya,bersama teman-teman yang lain. Kawan saya saat itu hanya anak-anak lelaki dan seorang teman perempuan. Saat sedang asyik-asyiknya bermain bonbonan (saya tidak tahu, apa bahasa Indonesia untuk permainan tradisional ini), tiba-tiba orangtua dari kawan yang sedang menjauhi saya itu datang menghampiri dan mengomeli saya. Dikiranya saya sudah melakukan perbuatan yang kurang baik ke teman saya itu, memukul lah, mendorong lah. Saya kaget saja, lha wong saya tidak pernah melakukan semua itu. Saya tidak pernah ambil pusing atau berpikir untuk menyakiti teman saya itu, tidak meskipun bagi saya, tetap menjadi tekanan batin ditinggal oleh sebagian besar teman-teman.

Saat sedang diomeli itulah, rombongan teman saya melintas sambil memandang saya dan teman-teman saya dengan pandangan yang menyeramkan bagi saya ketika itu. Lantas, seperti di sinetron, mereka mengata-ngatai. Duh, semakin nyeri saja hati ini dan saya tidak bisa berbuat apa-apa. Hari itu menjadi hari kelabu bagi saya sepanjang masa sekolah dasar.

Saya tidak menceritakan kejadian ini kepada orangtua saya. Bagi saya, sudahlah, toh hanya kejadian di sekolah saja. Beberapa tahun lalu, saat sedang bercerita banyak hal ke Mamah, secara tak sengaja saya menceritakan kejadian di sekolah dasar itu.

Mamah tercenung mendengarnya,sambil mengelus rambut saya.
"Duh, Tan... kenapa nggak pernah cerita kalau kamu pernah disakitin orang?"



~bukan begitu, saya hanya ingin mencoba menyelesaikannya sendiri

Saturday, April 30, 2011

Ah, Saya Tidak Ingat!

Jam udah nunjukin pukul 10.15. Saya masih asyik mematut diri di depan cermin, pakai kerudung, siap-siap ke kampus. Wew, saya ke kampus lagi! Memang sih, kemarinnya juga ke kampus, tapi hari ini berbeda, hari ini saya kuliah! KULIAH. Waaah, jadi ingat masa muda! hehe...
Saya pamit ke Teh Fika. Nggak enakan juga sebenernya ninggalin shelter sementara di shelter lagi ada korban, banyak. Tapi gimana lagi? Maka saya berangkat. Pak satpam udah siap siaga mau bantu saya nyeberang jalan tapi saya bilang saya mau ke kampus jadi nggak akan nyeberang di depan shelter. Pak satpam cuma senyum.

Sesering apapun saya naik angkot, saya nggak pernah berikhtiar buat nginget supir angkot yang udah berbaik hati nganterin saya ke mana-mana itu. Dulu, waktu belum merantau ke Bandung, saya inget wajah beberapa supir angkot plus karakteristik angkotnya. Secara rumah saya pas di pinggir jalan dan nggak berpagar, jadi saya bisa ngeliat ke jalan langsung. Apalagi, angkot yang di depan rumah ya cuma itu jadi kalau ke mana-mana naik angkot itu dulu, baru disambung angkot lain. Terus, setelah lulus SMP, buat ngisi waktu luang saya sering nyapu teras. Waktu lulus SMA juga seperti itu, jadi ya wajar kalau saya agak inget sama bapak-bapak dan mas-mas supir plus angkot mereka kayak gimana.

Lha, kalau di Bandung?? Kewalahan saya kalau harus nginget (lagian buat apa juga, saya bukan petugas sensus! hehehe). Nah, pas sampai pintu gerbang atas kampus, saya turun dan ngebayar ongkos angkot. Eee, si bapak supirnya kayak kaget ngeliat saya. Saya yang ngerasa dilihat lain sama bapak supir, kontan ngeliat balik dong. Ternyata si bapak supir malah senyum dan kayak pengen nyapa saya. Bingung, ya saya balas aja senyum s bapak, toh senyum kan ibadah jadi nggak salah dong ngebales senyum si bapak...

Karena lagi buru-buru, habis bayar dan kasih balasan senyum ke si bapak, saya pergi buru-buru. Saya coba inget-inget, itu bapak supir siapa ya? Rasanya emang pernah liat, tapi di mana? Kapan? Familiar pula wajahnya! Sepanjang gerbang sampai FIP saya malah mikirin itu, bukan mikirin keterlambata saya yang ampun-ampunan. Saya masih penasaran, si bapak itu siapa, serius.

Ah, pak supir, siapapun bapak, makasih udah kasih saya senyum hari ini... tapi maaf, saya lupa siapa bapak... maafin ya pak?? memori saya overload mungkin...

Semoga usaha bapak berkah ya pak... :)



30 April 2011
dini hari, ingat si supir angkot pagi kemarin

@TK PGRI Mekar Sari

Hari Jum'at sepekan yang lalu. Lantaran nggak ada kerjaan karena libur (dan saya baru sadar kalau hari itu libur), dari pagi saya sudah duduk manis di atas tempat tidur, anteng di depan layar si leppy. Ternyata notification friend-request saya bejibun. Huf, memang saya lagi bener-bener iseng, saya liat satu-satu friend-requestnya. Kalau dipikir-pikir, saya 'laris' juga. Padahal sebagian besar orang di friend-request itu nggak saya kenal betul. Hehehe... Iya, saya 'lirik' satu-satu dengan bersabar lantaran koneksi saya agak lambat. Dan terpaksa, pekerjaan domestik saya harus tertunda karenanya. Tapi saya menikmatinya.

Satu persatu friend-request itu saya confirm, tentu aja yang memang saya kenal atau pernah saya kenal. Sampai di satu friend-request saya berhenti. Di situ tertera nama Jacka Arisa Noereul. Duh, alay banget sih ni nama! gumam saya. Tentu aja dalam hati. Waktu saya lihat mutual friend nya ternyata ada beberapa teman SMP di sana. Jadi saya pikir dia teman SMP saya. Tapi teman SMP saya satu-satunya yang bernama Jaka ya Jakaria, bukan Jacka Arisa Noereul itu. Saya lihat lah profile-nya, di sana muncul juga nama teman-teman SD. Wah, bener ini mah si Jakaria! Duh, ni anak kok jadi begini yak? ya sudahlah. Saya kirim comment di wall-nya yang dia balas. Dia bilang, saya sampai sebegitunya sama sahabat sendiri, padahal dari TK bareng tapi baru di-confirm sekarang friend-requestnya.

Beberapa hari berlalu. Tiba-tiba dia datang lagi, mengomentari status saya. Comment terakhir yang ia kirim, ia bilang kalau ia jadi ingat saat-saat kami TK. Oiya, saya lupa bilang, kalau saya satu TK dengan si Jaka ini. Dilanjut dengan satu SD dan satu SMP. Wew, coba saja kau hitung kawan, sudah berapa lama kami berteman! Hehehehe...

Jujur saya kaget waktu kawan saya ini bilang ia keingetan masa TK kami di TK PGRI Mekar Sari. Saya sendiri agak lupa, tapi saat menulis ini saya coba ingat-ingat agar saya bisa membaginya denganmu.

Saya dan Jaka bertetangga. Dia tinggal tak jauh dari rumah, hanya dibatasi sebuah kebun kosong saja. Dulu, di sekitar rumah kami masih jarang yang sekolah TK dan kebetulan kami bisa sekolah TK. Kami selalu berangkat bersama naik becak, kalau orangtua kami tidak mengantar. TK kami letaknya jaaauuuuuuh dari rumah (sampai sekarangpun jaraknya memang jauh, haha). Kalau pulangpun kami pulang bersama, naik becak juga.Itu yang saya ingat. Selain itu, kami memang sering main bersama. Teman-teman terdekat kami waktu itu namanya Dede Pipit dan Dede Indra. Seingat saya, saya baru tau nama asli kedua sahabat TK saya ini sewaktu SMA saat kami bertemu lagi di SMA yang sama. Mereka ternyata bernama Fitri dan Rasyid Indra. Duh.

Selain itu, yang saya ingat dari masa TK saya adalah, saya menari ketika ada acara perpisahan. Saya pakai kostum kuning ketika itu, lengkap dengan renda-renda di roknya dan bando kuning berbulu. Saya juga pernah menari dengan tema petani, lengkap dengan kostum petani dan bakul. Bakul yang saya bawa waktu itu hampir jebol bagian bawahnya. Saya juga pernah ikut karnaval, memakai baju suster yang diwariskan turun-temurun dari kakak saya.

Di TK juga, saya pernah membuat Mamah sangat khawatir. Kekhawatiran Mamah terjadi ketika kami tamasya ke kolam renang di Cirebon. Saya hampir-hampir tenggelam ketika itu dan Mamah tergopoh-gopoh masuk ke kolam renang dan menggendong saya keluar dari kolam. Saya juga ingat makanan yang menemani masa TK saya. Ada siomay yang enak sekali (saya sering rindu rasanya, tapi nggak pernah menemukan rasa yang sama lagi), roti coklat yang berlapis-lapis yang dijual ibu-ibu di depan ruang TK, dan cireng yang dibentuk seperti buaya. Enak sekali rasa cireng itu!

Sementara itu, saya lupa episode yang saya jalani bersama Jaka sahabat saya itu. Saya jadi penasaran, apa yang Jaka ingat dari masa TK kami di TK milik Ibu Lilis guru TK kami itu. Ah, seberapapun besar usaha saya untuk mengingatnya, saya tetap lupa. Iya, terkadang satu hal bisa menjadi sangat kita ingat, namun hal lain justru dengan mudahnya terhapus dari memori kita.



29 April 2011

Monday, April 25, 2011

Senyum Bapak

Liburan yang hanya tiga hari ini tadinya akan kugunakan untuk berdiam di kosan, melakukan beberapa pekerjaan domestik yang selama ini tertunda. Kau taulah, pekerjaan itu macam mencuci baju yang ternyata sangat banyak, membereskan kamar yang ternyata ampun-ampunan berantakannya, juga kuharap bisa menggarap laporan PLAku yang sama sekali belum tersentuh. Namun, obrolan bersama seorang kawan di sms itu membuatku berubah pikiran. Aku ingin pulang saja. Maka, segera kutuntaskan pekerjaan domestikku. Lalu bergegas ke Tamansari mengunjungi Yulan, kakakku, membawa beberapa barangnya yang akan disimpankan di rumah. Namun, seberapapun besarnya keinginanku untuk pulang, aku tetap tak bisa pulang hari itu juga. Aku akan pulang besok, pagi-pagi.

Perjalanan pulang kali ini rasanya memang tak begitu jauh berbeda dengan perjalan pulang sebelumnya, satu bulan tiga pekan yang lalu. Namun bagiku, pasti akan terasa berbeda, terutama setelah turun dari bis di terminal nanti. Aku yang biasanya akan naik becak atau angkot 04, maka kali ini akan naik angkot yang berwarna biru, ke arah Jatibarang, melewati rute yang berbeda dari biasanya. Dan aku masih tak hapal jalan ke rumahku yang baru. Hehe…

Alhamdulillaah, aku nggak nyasar. Untung Mamah meng-sms alamatnya. Aku sampai. Ada tetangga-tetangga baruku yang duduk-duduk di warungnya Mak Yati, kusapai salam. Mak Dijah dan suaminya heboh, begitupun Mak Yati dan Mang Caram.
“Wah, wong Bandung teka kinih!”1 teriak mereka. Aku hanya nyengir. Ah, aku ingin segera sampai rumah!

***

Setelah mengoceh sana-sini dengan Mamah, Bapak, dan Dede, tibalah saatnya obrolan yang serius itu. Mamah menanyakan kapan aku wisuda. Aku minta maaf karena masih ngetem di bab dua. Kata Mamah nggak apa-apa, daripada aku stress kalau diburu-buru. Kujanjikan tahun ini aku lulus. Janji. Ya Allah, mudah-mudahan bukan janji saja yang kuberikan pada Mamah. Mamah masih membelai kepalaku sambil duduk-duduk di dekat pintu rumah.

Bapak asyik menonton tv. Kesukaan barunya adalah nonton FTV. Aku duduk menemani. Bapak menatapku. Matanya mulai berair, kuduga akan menangis seperti biasa. Benar, Bapak menangis. Mungkin karena terlalu senang melihatku lagi. Semenjak aku datang beberapa jam lalu, Bapak menangis. Bapak mengusap air matanya dan mulai mengajakku bicara. Aku makin tak mengerti ucapan Bapak. Bapak ternyata menanyakan kelulusanku. Mamah yang menjawab, maksudnya untuk menengahi, agar Bapakpun tidak terlalu menanggapinya secara emosional. Bapak mengangguk lalu air matanya mulai keluar lagi. Bapak tidak marah, Bapak sudah lama tidak marah. Tapi mungkin juga ada sedih di hatinya, tapi Bapak tak banyak bicara, hanya melanjutkan menonton FTV. Ah, aku jadi merasa tak enak pada Bapak. Harusnya aku bisa segera lulus agar bisa membantu Bapak.

***

Aku jadi ingat tahun-tahun yang lalu. Waktu itu Bapak masih sehat. Aku kelas tiga SMA. Prestasi akademikku tak begitu baik ketika SMA, seleksi awal program Super Motivasi aku tak lolos bahkan try out ujian nasionalpun tak lulus. Aku takut pulang ketika itu, aku malah nimbrung membantu teman-teman pelajar muslim menyiapkan acara dan baru pulang ke rumah sore hari. Ternyata Bapak sudah pulang, bahkan sedang duduk di ruang tamu bersama Mamah yang baru kembali dari sekolah mengambil hasil try out ku yang kacau itu. Tapi Bapak diam, mungkin marah. Dan Mamah hanya bertanya aku mau jadi apa ketika melihat pencapaian akademikku.

Aku ikut PMDK UPI. Entah karena apa, yang aku ingat malam itu aku tiba-tiba bilang ke orangtuaku kalau aku ingin mencoba PMDK UPI saja, memilih Psikologi. Sebagai orangtua, Mamah dan Bapak mengizinkan saja. Jadilah aku mengurusi semua syarat PMDK, yang sejujurnya kuakui tidak terlalu PD kuikuti melihat track record akademikku yang aduhai sangat rata-rata. Yang kubanggakan cuma nilai Bahasa Inggris, TOEIC, TOEFL, dan beberapa sertifikat aktivitasku saja. Bismillaahittawakkaltu ‘alallaah saja lah.

Beberapa bulan kemudian, ada pengumuman PMDK UPI. Waktu itu, aku mulai berharap. Gimana tidak berharap, aku sudah membuang jauh-jauh bayangan SNMPTN yang tak akan sanggup kulalui. Maka harapanku ya hanya PMDK ini, terlebih aku memang tak seperti teman-temanku yang ikut ujian masuk di PTN ini-itu.

Aku yang sudah jarang ke sekolah terpaksa ikut heboh bersama si Mamah yang tak sabar mengajakkku mengecek pengumuman itu di warnet. Kuturuti saja, akupun sama penasarannya, padahal besokpun di sekolah akan diumumkan. Tapi Mamah ingin jadi orang pertama yang tahu. Mamah langsung sujud syukur aku dapat PMDK, akupun ikut sujud di bilik warnet yang sempit itu. Sore itu, aku membawa kabar bahagia buat Bapak. Setidaknya, aku sudah membuat Bapak bahagia dengan diterimanya aku di PTN, mengikuti jejak kakak-kakakku yang lain.

Hari-hari selanjutnya kulalui dengan sukacita. Aku merasa beruntung. Aku benar-benar beruntung, akhirnya akan menyandang status sebagai mahasiswa, sama dengan teman-temanku yang otaknya encer-encer itu. Mendekati hari-hari registrasi, hatiku ketar-ketir juga. Tak ada isyarat apa-apa dari kedua orangtuaku. Aku jadi bertanya-tanya, apakah cita-citaku hanya sampai di sini saja? Di dalam hati, aku ingin seperti kakak-kakakku yang lain, menempuh pendidikan tinggi.

Sampai hari itu, hari terakhir pengiriman biaya registrasi. Hari itu aku ke sekolah, menandatangani surat-surat kelulusan. Aku tertekan, sementara teman-teman sibuk mengobrol cita-cita mereka. Aku hanya diam saja di belakang sekolah, menahan-nahan untuk tidak menangis. Akhirnya aku meluapkan semua tangisku di hadapan Kak Rotib, pelatih Pramuka-ku ketika SMP. Ia kebetulan ke sekolahku untuk mengambil seragam-seragam SMA yang tidak kupakai lagi untuk disumbangkan ke teman-teman yang tidak mampu membeli seragam.

Siangnya, di rumah, aku hanya berdiam diri di kamar. Menangis lagi. rasanya tak enak sekali ketika kita telah sangat dekat dengan apa yang kita impikan, tapi ternyata tak akan bisa mencapainya.

Hampir Ashar, kudengar suara mesin motor Bapak. Bapak pulag, tak biasanya Bapak pulang jam segini. Aku tidak keluar untuk menyambutnya, aku tetap di kamar pura-pura tidur. Suara bapak terdengar.

“Mah, tolong catetin nomer rekening yang buat bayaran kuliahnya Intan ya!”
“Lho? Biar Mamah aja yang ke bank, Pak.” Sahut Mamah.
“Nggak, biar Bapak aja yang masukin uang kuliahnya Intan. Sekalian ketemu temen-temen lama…” aku tak melihat ekspresi Bapak kala itu, tapi tampaknya Bapak senang sekali. Selepas kepergian Bapak ke bank, aku keluar kamar. Mamah menghampiri.

“Bapak tuh seneng banget Tan, dapet uang hari ini. Malah sampe ngotot pengen Bapak aja yang pergi ke bank. Bapak pengen nunjukkin ke temen-temen lamanya di bank kalau anak Bapak ada yang mau kuliah lagi. Ya begitulah Bapakmu, pengen mamerin anak-anaknnya bisa kuliah…” Mamah tersenyum. Aku ingin menangis lagi, menangis karena merasa bersalah pada Bapak. Aku suudzon beberapa hari ini, padahal Bapak susah payah cari uang agar aku bisa kuliah, dan ikhtiar Bapak baru dijawab Allah di hari terakhir pendaftaran. Duh, aku ingin Bapak cepat-cepat pulang agar bisa kupeluk dan kumintai maaf.

***

Bapak, aku ingin melihat senyum bangga Bapak padaku lagi seperti hari itu, hari yang senyum banggamu itu kulewati. Kuharap Bapak mau menungguku sebentar lagi saja…



Untuk Bapak, yang selalu percaya kalau aku pintar, tak pernah remedial. Padahal aku berkali-kali remedial. Untuk Bapak yang menggendongku setiap aku ketiduran saat menonton tv. Untuk Bapak yang memberiku boneka tanpa bulu dan aku merengek minta dibelikan boneka yang berbulu. Untuk Bapak yang membuatkan kolam ikan. Untuk Bapak yang masakannya selalu membuatku penasaran. Bapak, aku kangen jalan-jalan sama Bapak.





~24 April 2011

Saturday, April 02, 2011

Di Lapak Sepatu Itu

Kawan, dulu, ada sebuah pasar di tengah kota Indramayu. Semacam pasar induk, karena di sana dijual beragam barang, mulai dari kebutuhan pokok rumah tangga, pakaian, sepatu dan lain-lain. Semua berderet beriringan. Semua pedagang memiliki bangunan dengan konstruk yang sama, lapak-lapak yang dibatasi dan ditutup oleh lembaran terpal berwarna-warni. Saya masih ingat itu. Well, memang tak banyak yang saya ingat dari keberadaan pasar yang kami sebut Pasar Mambo itu. Saya masih sangat belia waktu itu, hm… belum jua masuk taman kanak-kanak.

Suatu hari, Mamah berniat membelikan kakak saya sepatu sekolah. Saya yang saat itu masih kecil tentu saja mendapat keistimewaan tersendiri untuk ikut. Senang sekali. Sesampai di pasar, kami mendatangi salah satu lapak yang menjual sepatu. Sepatu-sepatu itu tersusun rapi, berjejer, ada pula yang digantungkan. Yang jelas, saat itu saya mengaggapnya sebagai sesuatu yang sungguh luar biasa! Well, jika kau belajar Psikologi, kawan, mungkin kau dapat mengidentifikasi permasalahan yang selanjutnya muncul.

Saya bertanya ini-itu. Terpesona pada sepatu-sepatu yang dipajang. Saya berharap Mamah membelikan satu untuk saya. Dalam jangka waktu yang cukup lama saya memelototi beraneka sepatu yang ada sampai akhirnya saya bosan dan memperhatikan Mamah memilihkan sepatu untuk Yayu. Saya mulai membuat sedikit keonaran; menarik-narik baju Mamah, menunjuk ke sana-sini, merajuk. Namun tak digubris. Mamah masih asyik memilihkan sepatu untuk Yayu.

Rasa bosan itu memuncak dan saya kesal dengan keadaan itu. Kau tahu apa yang kulakukan selanjutnya kawan? Begini. Biar kugambarkan dulu situasi lapak sepatu itu. Lapak itu berukuran tak kurang dari dua kali dua meter, di tiga sisi ‘dinding’nya dijejeri sepatu. Ada bangku plastik yang digunakan pemilik lapak untuk duduk menunggui barang dagangannya. Seperti itulah. Maka, ketika kubaca gerakan Mamah yang tampak kelelahan dan akan duduk, saya seret sedikit kursi itu. Seketika Mamah jatuh terduduk. Sontak semua menoleh. Mamah bergegas bangun. Saya memasang muka seolah tidak tahu apa-apa.

“Duh, Bu…. Enggak kenapa-kenapa, kan? Ibu lagi hamil?”

Deg. Pertanyaan pedagang sepatu itu membuat saya kaget. Saya memang belum mengerti apa itu hamil, tapi saya tahu kejadian ini mungkin berakibat buruk. Sungguh, saya hanya ingin Mamah menengok sekali saja pada saya waktu itu, tidak. Bukan. Saya ingin Mamah memperhatikan saya bukan kakak saya. Itu masalahnya.

Well, sampai sekarang, kejadian itu masih terekam dalam memori saya. Saya memperlakukan Mamah dengan cara yang tidak baik. Mamah memang sedang tidak hamil saat itu, namun perasaan bersalah itu masih membekas. Mungkin Mamah sudah tidak ingat, tapi bagi saya, kejadian di lapak sepatu itu menyisakan sesuatu yang membekas, sesuatu yang mungkin tidak bisa saya maafkan.



25 Januari 2011

Thursday, March 31, 2011

Episode Ayah

Akhirnya ibu pulang juga. Well, kupikir aku bisa langsung mengemasi beberapa barangku dan langsung menuju terminal, menunggu bis yang akan mengantarku ke Bandung. Hari kian beranjak, matahari pun telah lewat dari batas waktu dhuha. Aku menunda keberangkatanku ke Bandung karena ibu pergi lagi, kali ini untuk membeli makan siang bagi kami, maksudku, bagi aku, ayah, ibu, dan tentu saja adikku yang saat itu masih berada di sekolah. Semenjak nenek meninggal dan ayah tidak lagi bekerja, ibu sudah jarang memasak. Ia memilih membeli lauk saja karena di rumahpun sudah sepi. Hanya tinggal ayah, ibu, dan juga si Neng sementara aku hanya sesekali saja menyempatkan pulang di antara sekian banyak aktivitasku di Bandung.

Ibu belum juga pulang. Aku terpekur menatap jauh ke jalan dari jendela kamarku. Dulu, tepat di bawah jendela ini ada kolam ikan yang gemericik airnya selalu mendamaikan hatiku yang sering carut marut. Dulu, ikan-ikannya sering kuajak tertawa, mungkin karena itu mereka mati satu-persatu. Sekarang mana ada ikan-ikan lagi di sana, airnyapun sudah kering seiring musim kemarau yang tak jelas kapan berakhirnya. Yang masih setia menemani kesunyian kolam itu hanya guguran daun dari pohon mangga yang terus meranggas. Katanya, kalau sudah begitu, berarti akan segera berbuah lagi. Kuharap memang seperti itu, aku sudah lama rindu ingin memakan mangga dari pohon yang semenjak kami tinggal di rumah tua itu sudah berdiri. Jadi memang usianya sudah jauh lebih berumur daripada aku.

Tiba-tiba kudengar suara ayah. Terbatuk. Ah, paling ayah cuma tersedak seperti biasa! Ayah nggak sabaran sih, kalau minum! Maka aku tetap diam menikmati sepoi angin laut yang masuk lewat jendela kamarku. Semenit, dua menit, lima menit. Suara ayah tetap terdengar. Bukan, bukan batuk. Ayah muntah. Namun aku masih terdiam, sebenarnya menunggu. Biar ayah keluarkan dulu semuanya, nanti aku bersihkan. Pikirku saat itu, muntah tak akan pernah lama kan? Nyatanya, ayah masih saja muntah. Terus menerus sampai yang dikeluarkannya hanya ludah. Kulihat ayah, tubuhnya berkeringat basah. Aku bergegas mengambil kain pel, mengepeli sisa-sisa muntahan ayah dan ayah masih terus muntah.

“Masya Allah… ayah kenapa?” seru ibu sembari menutup pintu. Ayah tidak menjawab apa-apa. Ikan bakar yang dibeli ibu digeletakkan begitu saja di meja ruang tamu. Ibu langsung ambil alih pekerjaanku. Aku membuat teh hangat untuk ayah, dan mengambilkan minyak kayu putih, mengoleskannya di tengkuk ayah yang dingin, supaya terasa hangat.
Ibu kemudian memapah ayah ke kamar, menyelimutinya dengan selimut tebal dan segera, selimut itu basah. Ayah berkeringat banyak. Aku mengelapi wajah ayah dengan handuk, yang kulakukan dalam diam.

“Ayah kenapa, Nok?” tanya ibu. Aku mengangkat bahu.
“Udah dari tadi?” lanjut ibu. Aku mengangguk.
Ibu merapal doa-doa, kuikuti gerakan bibirnya. Ibu memang suka berdoa. Ayah sedikit tenang, perutnya sekarang kempis. Mungkin karena isinya sudah keluar semua.
“Ayah mau minum?” tanyaku. Ayah menggeleng. Air teh yang kubuat menjadi dingin, tak tersentuh oleh bibir ayah.

Pukul 14.00 saat itu. Bis pasti sudah berangkat. Huuuffff… aku hanya bisa menghela nafas, mungkin aku bisa mengejar bis terakhir ashar nanti. Mudah-mudahan, karena besok aku harus mengajar.

“Nok, ke Bandungnya nanti aja ya? temenin ibu, sampai ayah baikan. Nggak apa-apa ya?” ujar ibu, yang membuatku merasa tak enak. Di satu sisi, aku ingin segera berangkat untuk menuntaskan beberapa amanah yang kutinggalkan, juga untuk membaca bahan ujian. Harusnya kemarin aku ujian, sekarang aku harus ikut ujian susulan.
“Iya Bu.” Begitu saja kujawab. Aku selalu reflek menjawab iya setiap ibu memintaku melakukan sesuatu. Iya, beberapa bulan ini aku menjadi seperti itu. Ya Allah, semoga ayah segera baikan. Harapku dalam hati.

Aku tidak makan, ibu juga begitu. Ayah apalagi. Aku dan ibu duduk di samping ayah yang berbaring, sesekali kuseka keringatnya sementara ibu sibuk mengepel lantai berkali-kali. Ayah kembali muntah-muntah. Kali ini muntahnya berwarna pekat, hampir hitam. Aku tak berani berkomentar, hanya menahan-nahan emosiku jauh di sudut hati sana. Bukan, ini bukan apa-apa kok. Aku menegarkan hatiku.

“Ini apa ya, Nok?” tanya ibu. Kupandangi ibu yang tengah mengamati muntahan ayah.
“Oo… itu kecap mungkin, Bu. Tadi pagi ayah kan makan nasi lengko, mungkin kebanyakan kecap…” ujarku, padahal aku tahu itu bukan kecap.
“Iya kali ya…” ibu membuang muntahan ayah. Ayah tersengal, kelelahan. Kuseka lagi keringat di kepalanya yang kian jauh dari rambut. Ayah sudah tua.

Ashar terlewati, aku positif tidak akan kembali ke Bandung hari ini. Biar saja, saat ini keluarga membutuhkan kehadiranku. Sementara itu ayah masih seperti semula, malah semakin menjadi muntahnya. Aku terjaga di samping dipan ayah. Ibu sedang shalat, berdoa lagi, berdoa sepenuh hati untuk ayah.

Ayah menatapku, air mataku sudah menggantung maka aku tak balas menatapnya. Ayah meraih tanganku, keringatnya masih kurasa di telapak tangannya. Kutahan air mataku untuk ayah, maka kuberanikan diri menatapnya.

“Ayo, Ayah! Mana dzikirnya? Yang tadi ibu bilang itu lhoo… apa coba?” aku malah berubah menjadi kekanak-kanakan di hadapan ayah. Ayah masih menatapku. Pandangan matanya tak lagi setajam dulu. Mata ayah sendu, sayu. Ayah kehilangan kegagahannya dulu, kegagahan yang selalu kusambut dengan rengekan minta digendong setiap kali ayah pulang kerja. Kegagahan yang dulu kujadikan tempat berlindung setiap kali aku ketakutan, kegagahan yang dulu menggendongku ke kamar setiap aku terlelap di lantai saat menonton televisi.

“Laa… ilaaha i…illa a..ant.. ta subhaana.. ka i.. inni k.. kuntum.. minnadz dzaa… limiinnn..”
“Yaa Allaah… Yaa rahmaa…nn.. Yaa naaa…shiiirr…” ayah berucap dengan terbata, sekuat tenaga, tetap sambil menggenggam tanganku. Aku menahan-nahan agar air mataku tak jatuh. Ya Allah, aku ikhlas…

“Ee… mang a appa a..artinya?” tanya ayah. Aku makin tak sanggup lagi membendung luapan air mata, mungkin sebentar lagi bendungan air mata ini akan roboh dan alirannya akan menggenangi setiap sudut wajahku. Ya Allah, kalau harus sekarang, aku siap… kalau harus sekarang, aku rela. Karena ayah sedang mengingat-Mu. Ya Allah, tidak apa-apa. Aku memalingkan wajah sejenak, agar ayah tak melihatku tengah menyeka air mata.

“Artinya, tidak ada tuhan selain Allah sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzalim… ya Allah yang Maha Pengasih, yang Maha Pemelihara..” aku mengusap air mata, mencoba tersenyum meski berat.
“Tuh Yah, artinya bagus ya! Yuk diterusin lagi dzikirnya!” kulihat ayah tersenyum. Ya Allah benar, aku tidak apa-apa kalau ayah memang harus Kau panggil sekarang.

Ibu sudah selesai shalat, ia mengganti selimut ayah dan mengelap tubuh ayah. Ayah memandangi ibu, lantas menyentuhkan tangannya yang dulu kekar ke wajah ibu.
“Ibu tua ya!” ayah mencoba tertawa. Ibu tertawa, namun aku terharu.

Maghrib, ayah masih belum memasukkan apa-apa ke lambungnya, tidak pula sekedar air putih. Aku dan ibu kalut. Si Neng di kamar, mungkin tak tega melihat kondisi ayah yang turun drastis semenjak beberapa pekan lalu harus dirawat di rumah sakit. Aku dan ibu mengaji di dekat ayah, sesenggukkan.

“Yah, ke rumah sakit aja ya?” ujar ibu tiba-tiba. Kupikir ada benarnya, supaya ayah bisa diinfus jadi tetap ada nutrisi yang masuk ke tubuhnya. Ayah menggeleng, tak mau merepotkan katanya. Aku dan ibu semakin berpikir yang tidak-tidak. Ibu menelepon dokter yang tinggal tak jauh dari rumah. Dokter memeriksa ayah, sebentar. Lantas keluar dari kamar ayah, aku mengikuti. Dokter diam saja, aku jadi semakin cemas.

“Ayah kenapa, Dok?” kuberanikan bertanya. Dokter menatapku sesaat.
“Gimana kalau dibawa ke rumah sakit aja, ayahnya Mba?” sudah kuduga.
“Iya sih Dok, saya sama ibu juga maunya begitu tapi ayahnya nggak mau. Kalau bisa, obat aja, Dok…” maka sang Dokterpun menuliskan resep obat.

Namun ayah tak menyentuh obat itu, juga tak menyentuh ikan bakar yang tadi siang ibu beli. Ayah belum makan apa-apa, belum minum apa-apa. Dan ayah tetap seperti itu. Aku dan ibu menunggui ayah sampai ibu menyuruhku tidur, dan sebenarnya aku tidak bisa tidur.


31 Maret 2011
0840 pm

Wednesday, March 09, 2011

Pertama, yang Terakhir

Aku masih bermalas-malasan saat itu. Seperti yang kau tahu, itu yang selalu kulakukan, setiap pagi, setiap kali aku pulang. Dan kaupun biasanya seperti itu.
Kau tiba-tiba saja bergumam, menyuarakan sesuatu yang tak pernah kudengar sebelumnya. Kau tahu, sayang? Aku merelakan kantukku pergi, agar aku dapat bersamamu pagi ini.

Ingin jalan-jalan, ujarmu. Dan aku bergegas mengganti pakaianku, menawarkan diri untuk menemanimu melalui pagi, dari sini. Dari tempat yang tak lama lagi akan kita tinggalkan.

Dan kita memang berjalan, mensesapi tiap belaian udara. Menunjuk bintang fajar yang rupanya masih bertengger di langit. Menikmati orang-orang yang hilir mudik ke pasar. Duduk memandang jauh, pada buih-buih air yang menghentak-hentak waduk.

Dan kita memang berjalan. Dan kau berjalan dengan cepatnya ketika melewati kandang sapi itu, dan aku terantuk batu berkali-kali. Kau tertawa, puas. Dan aku ingin sekedar merangkulmu.

Dan kita menghampiri pedagang kue itu, tempat kedua orang tua kita selalu membelikannya untuk kita setiap pagi. Lalu kita menyusuri kota, mencari nasi jamblang yang kita rindukan. Dan kita membawanya pulang, kupikir akan menyenangkan seandainya kita bisa sarapan bersama di rumah bercat hijau itu.

Kau tahu, sayang? Ini pagi yang meninggalkan senyum di hatiku.




mengingat pagi terakhir di sana, dan untuk pertama kalinya kita melalui pagi bersama
(6 Maret 2011)
Sekar Indira Kuswoayuning

9 Maret 2011

Monday, February 28, 2011

untitled

Kau tahu, telah lama aku merindukan gemintang. Mega merayap, menghisap bintang-bintang dalam hibernasinya yang panjang. Purnama tenggelam sebelum senja membuka malam. Angin berkibaran, menundukan mata kelelawar, menyudutkan tupai-tupai dalam sarangnya yang hangat.

Tidakkah kau mengerti, aku sungguh melihat fatamorgana surya. Beberapa detik yang kuharap penuh cahaya dan angin membawa kabar musim semi. Dandelion masih serupa serpihan, tertimbun di lapis tanah teratas, terselip di antara dedaunan yang lunglai lepas dari reranting. Kupu-kupu belum berani menampakkan kibasan sayap halusnya di antara rumpun mawar yang tertidur.

Atau mungkin kau merindukan gemintang melebihi kerinduanku, sampaisampai mega kau tebas. Dan bintang mulai tersipu malu untuk kembali berlarian pada kain malam yang menjuntai di angkasa. Purnama berganti wajah, dan angin kembali bersahabat dengan sang kelelawar, bersenda gurau dengan tupai-tupai di lubang pohon kita.

Karena bisa jadi, engkau telah melihat surya menggeliat sambil menyapukan senyumnya pada bumi. Beberapa bulan yang serasa benderang dan angin menerbangkan serpihan-serpihan dandelion ke bawah kakiku, terjatuh di atas rerumputan yang mengelilingi akar-akar pohon yang riang. Kepompong-kepompong telah ditanggalkan, dan udara semerbak dengan belaian sayap kupu-kupu yang membawa wangi rumpun-rumpun mawar.

Wednesday, January 19, 2011

Teringat Akan Ci

Bangun pagi hari itu sebenarnya sungguh menyiksa saya. Kau tahu kawan, beberapa hari belakangan, saya baru dapat mengizinkan mata saya terpejam seutuhnya selepas tengah malam. Seperti tadi malam, teman-teman kurcaci saya membuat suatu agenda berkumpul, ada sedikit buah tangan dari Pebi dan Fauzia: tekwan dan bakpia, perpaduan yang bagi saya tidak terlalu menarik setelah sore itu saya makan cukup banyak bersama kakak saya, Yulan. Namun nyatanya sayapun ikut larut. Mungkin beginilah keindahan tinggal di perantauan dan bertemu mereka. Maka kami yang lama disibukkan oleh aktivitas masing-masing malam itu asyik berbincang, berkelakar, tertawa, bermain dan sungguh menjadi siksaan bagi saya di pagi hari. Kau tahu, masuk angin. Mudah sekali bagi saya masuk angin meskipun saya telah menghabiskan minak kayu putih di sekujur tubuh saya. Dan lagi, kantung mata ini rasanya berat. Berat. Mengingat hari ini saya masih harus ke kampus, mengingat pakaian yang belum saya setrika, mengingat jumlah kaus kaki yang makin terbatas dan setumpuk baju yang sudah layak dicuci. Berat, atau lebih tepatnya sangat malas.

Hujan di luar kamar Ita masih menggelayut, rintik-rintik memang, namun tetap saja membuat saya bertahan di kamar Ita. Bukan kawan, seandainya pun telah kukatakan padamu dulu bahwa saya sudah tidak lagi memiliki payung, namun bukan karena itu saya bertahan. Lebih semacam penangguhan: biar saja hujan menunaikan kewajibannya terlebih dulu, saya tidak akan mengganggu sampai dia benar-benar selesai. Mungkin seperti itu. Atau lebih tepatnya, saya memang sedang tidak ingin berbuat apa-apa.

Fauzia menghidupkan televisi. Itu yang selalu menjadi aktivitasnya di agi hari kalau kami semua bermalam bersama, baik di tempat Devi, Ita, Yanggi, atau Pebi. Karena sesungguhnya, bagi saya da Fauzia, itu kesempatan kami melihat dunia atau sekedar menikmati tayangan iklan yang menawarkan beraneka ragam produk baru yang tidak kami tahu. Atau sekedar mengamati perjalanan kasus Gayus Tambunan atau bahkan menikmati kabar-kabar selebritis yang menurut kami melempem. Fauzia asyik dengan kesibukan mencari channel yang menarik. Ia kemudian jatuh hati pada salah satu stasiun televisi yang menyajikan berita hangat-hangat. Hangat, karena beritanya terkadang sudah ditayangkan semalam, sehari, atau sekedar pemberitaan yang didramatis-dramatiskan.

Seorang TKW asal Indramayu tewas.

Sepenggal kalimat dari kotak ajaib yang menampilkan perpaduan gambar bergerak dan suara itu menghantam kepala saya. Synaps di dalamnya menyala-nyala, menjulur-julur, tak sabar ingin segera mendapatkan respon dari sistem kognisi saya. Juntaian synaps ini rupanya memaksa otot-otot mata saya diatur otak. Tidak, tangan saya belum sampai dikunjungi kiriman perintah dari otak untuk mengucek-ucek mata. Mata saya hanya memelototi tampilan di layar kaca. Telinga saya kontan melebarkan daunnya, menangkap suara-suara tertata anchor. Jantung saya berdegup melebihi degupnya ketika saya baru bangun beberapa saat lalu. Sontak, saya ingin menangis.

Anchor terus memaparkan berita dan saya masih dalam kondisi tadi. Mendengar nama TKW itu cukup menambah-nambah beban hati saya, melayangkan pikiran saya pada masa yang tak pernah coba saya lupa, membawa serangkaian prasangka.

Kawan, sudahkan kuceritakan padamu kisah itu? Seandainya belum, maka mungkin saya harus berbagi. Sewaktu masih berseragam putih-abu, saya memiliki seorang kawan. Tiga tahun kami berteman, satu kelas meski tak pernah satu meja. Ia menempuh perjalanan yang jauh untuk sampai di sekolah. Tiga perempat jarak Cirebon-Indramayu. Kau bayangkan, ia berangkat sekolah pagi-pagi sekali. Saya pasti masih tidur saat itu. Ia lakukan perjalanan itu setiap hari. Di kelas tiga, ia harus berangkat lebih pagi lagi karena ada satu hari di mana kami telah memulai pelajaran pada jam lima tiga puluh.

Pandai bergaul. Itu yang saya tangkap dari tingkah lakunya selama ini. memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, suka sekali bertanya. Tidak mudah sakit hati, mungkin itu yang membuatnya tampak easy going. Ia membawa sekotak makanan untuk dijual. Mudah baginya menyerap pelajaran, ketika merasa kesulitan ia tak ragu bertanya pada siapa saja. Bukan juga orang yang gagap teknologi. Ia justru antusias sekali pada satu hal ini.
Waktu kelas tiga itu, satu sekolah kami mengikuti seleksi masuk program Learning Camp, program Super Motivasi yang digulirkan pemerintah untuk menjaring putra-putra terbaik daerah saya. Mereka akan mengikuti serangkaian seleksi, try out setiap Sabtu dan pembahasan try out di hari Minggu. Serangkaian seleksi itu akan menghasilkan tiga puluh putra terbaik yang layak mengikuti bimbingan belejar intensif di Bandung yang disebut Learning Camp selama sebulan, saya lebih suka menyebutnya persiapan menghadapi ujian masuk PTN. Ajang ini bergengsi kawan, kalau kau mau tahu. Mereka yang lolos masuk PTN akan mendapatkan beasiswa dari pemerintah daerah selama masa kuliah. Ini sangat menggiurkan bagi siswa kelas tiga SMA. Siapa yang tidak terrtarik dengan janji pemerintah ini?

Mungkin saya. Saya bahkan tidak lolos pada seleksi tahap pertama yang diikuti oleh ribuan siswa itu. Bagi saya tidak masalah, karena saya tidak begitu menyukai ilmu yang berkaitan dengan kemampuan matematis, mekanistis. Hampir sekelas kawan saya lolos, termasuk kawan saya itu. Oya, kita belum membahas siapa namanya. Saya ragu untuk mengatakannya padamu, kawan. Mungkin begini, kita sebut saja namanya Ci. Ci lolos pada seleksi pertama dan seleksi lanjutan, beberapa kali ia ikut try out. Sampai pada try out terakhir, ia tampak tak antusias. Bahkan tidak mengikutinya. Seleski tahap akhir, kawan!

“Ci nggak diizinin iku, Ntan.” Ujarnya. Permasalahan klasik. Seorang anak dari keluarga kurang mampu yang memiliki minat luar biasa pada ilmu, dihadapkan pada suatu pilihan yang rumit. Setidaknya rumit menurut saya waktu itu. Maka di sanalah Ci, turut dalam barisan siswa yang dinyatakan tidak lolos, padahal prestasinya cukup baik selama seleksi. Satu mimpinya tergadaikan: menempuh pendidikan setinggi-tingginya.

Di lain waktu, menjelang ujian akhir. Ci duduk sendiri, melamun. Ini bukan kebiasaan dia. Kalau saya boleh bilang, ia hampir selalu bersama kawan baiknya, kemana-mana. Mungkin saat itu ia hanya ingin rehat sejenak, seperti yang kadang saya lakukan. Namun itu menggelitik saya.

“Ci belum bayaran, Ntan. Sebentar lagi ujian.” Ia menahan untuk tidak menangis. Di tahun sepanjang saya sekolah, uang SPP untuk kelas kami sudah mencapai angka seratusribuan. Tempatkan dirimu pada posisi Ci, kawan. Saya ikut bingung dan malah menceritakan permasalahan saya yang kurang lebiih sama seperti Ci. Kami menangis bersama dan berjanji masalah ini tidak akan menghambat semangat kami.

Menjelang kelulusan, saya semakin jarang mendengar kabar tentang Ci. Sampai satu kabar mampir pada saya, Ci di Jakarta. Sudah di penampungan, belajar. Kata penampungan sesungguhnya tidak asing bagi kami masyarakat Indramayu, namun kata itu sanggup membuat saya bertanya-tanya: untuk apa kawan saya di sana? Belajar apa? Apakah… saya tidak mau memikirkan apa-apa karena pada kenyataannya, pikiran saya benar, Ci akan menjadi TKW kalau memang terlalu kasar untuk mengatakan PRT di luar negeri. Lihat, siswa kelas paling yahud di sekolah, kawan saya, siswa yang tinggal dipoles sedikit saja, dan diberi kesempatan sedikit saja untuk menancapkan mimpinya, harus mengalami nasib yang sama seperti ratusan perempuan Indramayu, menjadi TKW.

“Di Oman, Ntan…” begitu saja ia bercerita, tanpa beban.

Belum genap setahun setelah keberangkatan Ci. Saya sudah di Bandung, hampir menginjak akhir semester dua saat kawan saya itu menghubungi lewat email. Pilu, itu yang saya tangkap dari pesannya. Ia mengalami apa yang disebut sebagai TKW yang kurang beruntung, begitu saya menyimpulkannya. Ia bersikeras ingin pulang, meminta tolong pada saya untuk mencarikan solusi. Solusi yang tidak tahu harus saya cari di mana. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Dan kami kehilangan kontak. Beberapa tahun.

Aroma Ci saya tangkap kembali. Ia muncul begitu saja di situs jejaring sosial, itu kali kedua ia ada di Oman. Ruapanya, sempat pulang juga ke tanah air. Kutarik arti semua ini: ia dalam kondisi baik-baik saja.

Beberapa malam lalu, ketika saya menghabiskan beberapa saat di warnet, saya menemukan sapanya pada wall saya. Beberapa malam lalu, sebelum pagi ini saya mendengar kabar di televisi itu. Mereka memiliki nama yang sama, asal daerah yang sama, Indramayu. Dan itu cukup menjadi beberpa alasan bagi saya untuk merasa khawatir.

Saya tidak berharap buruk sebenarnya. Jantung saya kembali pulih. Mata saya tidak lagi memaksimalkan otot-ototnya bekerja. Entah, saya menghempaskan nafas lega. Mensyukuri kondisi kawan saya Ci. Bukan berarti mensyukuri kepergian orang yang namanya sama seperti Ci, bukan mensyukuri. Namun cukuplah bagi saya untuk merasa tenang, kawan saya baik-baik saja. Saya hanya terjebak, terjebak pada novel yang sedang saya baca, novel yang juga memaparkan kepedihan nasib seorang TKW di tanah Arab, terjebak pada kesamaan, terjebak pada suatu kondisi kesadaran diri yang belum lengkap.

Saya hanya bisa memelihara harapan, semoga Allah melindungi kawan saya. Kawan dari kawan saya itu, kawan dari kawannya kawan saya yang tengah menjalani satu bagian takdir menjadi tenaga kerja di luar negeri sana.
Pagi itu, saya telah siap melakukan aktivitas, seperti hari-hari sebelumnya.

19 Januari 2011
Riau 1

Saturday, January 15, 2011

Berlari

Tiba-tiba aku bertanya pada diriku sendiri: mengapa aku harus berlari? Mega rupanya tak begitu tega meluapkan tangisnya saat itu, dan kunikmati angin yang menerjang. Sembari menegarkan nafasku yang tersengal-sengal, sembari memerciki hati dengan harapan.

Sungguh terkadang aku berpikir, tak ada gunanya aku berlari. Karena mentari akan tetap di sana dan waktu memang sering kali menjadi makhluk yang tak akan bisa kita samai langkahnya. Dan ternyata aku berlari, sebentar berhenti. Sebentar saja dan aku berlari.

Dan aku berhenti.
Kembali bertanya.
Dan aku tak harus berlari.
Dan waktu memang tak akan bisa kuiringi, di antara nafasku yang semakin pendek. Bersama mega yang tak lama lagi menangis dan hati yang kujaga dalam irama harapan.


19.39 pm
15 Januari 2011

Saturday, January 08, 2011

Hello Seattle


Hello Seattle, I am a mountaineer
In the hills and highlands
I fall asleep in hospital parking lots
And awake in your mouth

Hello Seattle, I am a manteray
Deep beneathe the blue waves
I'll crawl the sandy bottom of Puget Sound
And construct a summer home

Hello Seattle, I am the crescent moon
Shining down on your face
I will disguise myself as a sleeping pill
And descend inside of you

Hello Seattle, I am a cold seahorse
Feeling warm in your sand
I sing about the tide and the ocean surf
Rolling in the evening breeze

Hello Seattle, I am an albatross
On the docks and moored boats
I sail above your inlets and interstates
Through the rain and open wind

Hello Seattle, I am an old lighthouse
Throwing beams of bright lights
Red in the morning, blue in the evening sun
Taking heed for everyone

Hello Seattle, I am a mountaineer
In the hills and highlands
I fall asleep in hospital parking lots

Take me above your light
Carry me through the night
Hold me secure in flight
Sing me to sleep tonight

Take me above your light
Carry me through the night
Hold me secure in flight
Sing me to sleep tonight



singing by: Owl City
gara2 denger lagu ini jadi nada dering seseorang di warnet, saya jadi tulis liriknya. Well, it remind me about Sekar Indira Kuswoayuning

Friday, January 07, 2011

Pak Asrori

Hari sudah beranjak sore ketika itu. Saya baru saja keluar dari warnet, hendak menuju DT menunggu Nukeu, kawan KKN saya saat sosok itu memaksa saya untuk berpikir. Sosok itu muncul begitu saja dan ia memang memaksa kognisi saya bekerja lebih keras sampai akhirnya saya ingat sesuatu tentang beliau. Karena memang tidak terlalu mengenal beliau, maka sayapun tidak berusaha menyapa. Saya langkahkan kaki lebih jauh ketika Nukeu mengirimkan sepotong pesan ke ponsel saya yang membuat saya memutar arah. Dan saya berpapasan lagi dengan orang itu. Saat itu, saya hampir ingat beliau secara utuh.

hari memang telah sangat sore ketika saya (lagi-lagi) beranjak dari warnet hari itu. Tak menyangka, ternyata saya harus bertemu lagi dengannya, yang sepanjang sore itu seolah memang harus bertemu.
"Yang dari Cirebon ya?" tanyanya begitu melihat saya.
"Bukan Pak, saya dari Indramayu..." jawab saya.

Nyatanya, mungkin Pak Asrorijuga berusaha keras untuk mengingat saya, orang yang sepanjang sore itu beberapa kali ia jumpai.

Pak Asrori, orang yang secara tak sengaja hadir dalam sekelebat hidup saya. Beliau adalah salah satu peserta dalam salah satu seminar yang melibatkan saya sebagai panitia beberapa tahun lalu. Beliaulah yang menangkap pesan dari apa yang tidak saya tunjukkan. Beliau mengetahui sisi lain dari diri saya semenjak pertama kali bertemu. Beliau sosok bapak yang mengajarkan saya beberapa hal di hari pertama kami bertemu, yang juga menjadi hari terakhir diskusi panjang kami tentang hidup. Pak Asrori, sebenarnya bukan orang yang spesial atau berpengaruh dalam kehidupan saya, namun ialah orang yang memerciki saya akan suatu kesadaran, kesadaran akan diri saya, kesadaran akan kehidupan...


7 Januari 2010

Wednesday, January 05, 2011

Satu Alasan Rahasiaku


Aku baru menyadari satu hal. Iya, satu hal yang membuatku memaksakan diri naik bis damri, bis antarkota yang menghabiskan waktu lima jam untuk sampai di kotaku. Padahal aku tahu, ada bis yang tepat melintas di depan kampusku, dengan waktu tempuh kurang dari lima jam, dan tentu saja, lebih murah karena ia bis ekonomi. Aku baru menyadarinya sekarang, hanya untuk satu alasan aku kerap setia dengan damri. Kau tahu? Ya, kau boleh tertawa nanti atau menggeleng-gelengkan kepala mengetahui alasanku. Hanya untuk menikmati sekantung tahu sumedang, aku rela menuju Cicaheum demi damri padahal aku cukup kelelahan menuju ke sana, juga rela menelan bulat-bulat tablet antimo agar aku bisa pulas tidur dan melupakan sejenak rasa masuk angin yang kerap menghantui setiap kali aku naik damri ber-AC ini.
Iya, untuk sekedar menikmati tahu sumedang inilah...

Alasan sederhana, atau mungkin kekanak-kanakan namun aku menikmatinya. Aku tahu, bisa saja aku membeli sekantung tahu sumedang itu di mana saja dan dapat menikmatinya di mana saja. Namun aku menikmati alasan sederhana ini sebagai bumbu perjalananku setiap kali aku pulang ke Indramayu atau berangkat ke Bandung, dan bagiku itu bukan suatu masalah.


5 januari 2010
832 pm, setelah beberapa menit lalu turun dari bis, namun aku tak dapat menikmati sang tahu sumedang.